Keberhasilan kebijakan pembangunan luar negeri Korea Selatan melalui Saemaul Undong di Uganda, Vietnam, dan Indonesia

Penulis: M.R. Alva Rizky


|Dari segi historis negara korea selatan merupakan negara yang mengalami keterpurkan dan menjadi negara termiskin setelah berakhirnya perang korea. Keberhasilan kebijakan Saemaul Undong yang dicetuskan oleh presiden Park Chung tahun 1970 membawa transformasi awal kebangkitan korea selatan menjadi negara yang maju dalam hal perekonomian, agrikultur, pendidikan dan kesehatan sampai saat ini.

Progam pembangunan desa di Korea selatan memiliki tujuan utama yakni dengan meningkatkan kesejahteraan hidup penduduk desa dan meminimalisir berbagai ketimpangan naik desa maupun kota, pemerintah disini melakukan kerja sama antar penduduk desa. Dengan prinsip “spirit of dilligence, self-help, dan cooperation” serta moto “Let’s Live Well!,” pemerintah Korea selanjutnya menginisiasi tiga langkah utama, sebagai berikut. Pertama, pemerintah Korea menyadarkan, menghilangkan kepasrahan, dan menanamkan rasa percaya diri pada penduduk desa (Lestari, 2016).

Semaul Undong juga menarik perhatian global karena keberhasilannya yang memajukan desa desa yang efektif dalam model pembangunan daerah. Lebih dari 57 - ribu pengunjung dari 140 lebih negara datang ke Korea untuk mempelajari gerakan ini Saemaul Undong dan lebih dari 130 negara telah mengadopsi model tersebut di komunitas pedesaan mereka sendiri. (Arirang News, 2015).

Mengacu dari konsep William D. Coplin menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh tiga konsideran, yaitu kondisi politik dalam negeri, kemampuan ekonomi dan militer serta konteks internasional. Dengan mengamati ketiga konsideran ini, nantinya dapat menjelaskan alasan politik luar negeri sebuah negara ditetapkan.

Vietnam

Hubungan Vietnam dan Korea Selatan telah mengalami peningkatan signifikan dalam segi ekonomi dan area pembangunan. Korea yang berhasil dari segi pembangunan melalui Saemaul Undong ini memberikan pengalamannya dan menjadikan Vietnam sebagai prioritas dalam program Saemaul Undong (Kim Y. M., 2014).

Dalam proses menuju kemajuan hal ini disambut baik oleh presiden vietnam dimana hal tersebut memperlihatkan suatu bentuk kerjasama antara Korea selatan dengan Vietnam dalam program Saemaul Undong untuk memajukan pembangunan desa. Hal ini menjadi batu loncatan menjadi kunci kesukesan yang dapat diimplementasikan oleh negara negara berkembang seperti vietnam untuk pembangunan ekonomi, yakni inti strategi terletak pada penempatan masyarakat.

Bisa dikatakan bahwa kondisi politik dalam negeri memepengaruhi vietnam untuk mengambil suatu keputusan bisa dilihat bahwa penduduk desa di Vietnam memiliki keterbatasan akses terhadap infrastruktur yang memadai dan metode pertanian berteknologi maju, serta memiliki sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas rendah. Kondisi tersebut memunculkan urgensi bagi pemerintah Vietnam untuk meluncurkan “National Target Program on New Rural Development (NRD) for 2010-2020”. Bertujuan membangun perekonomian desa dan meningkatkan standar hidup penduduk desa (Trang, Hanh, & Trang, 2015). Atas dasar pembangunan korea yang sukses membuat vietnam tertarik untuk melakukan program Saemaul Undong.
Hal ini membuat vietnam mengambil pilihan rasional akan langkah kebijakan luar negerinya terkait Saemaul Undong dalam praktik pembangunan desa di Vietnam secara lebih jauh, dan melakukan tiga proyek Saemaul Undong yakni proyek Khoi Ky, proyek Quang Tri, dan proyek Thanm Ngan. Dari sini terjadi adanya timbal balik dimana memfasilitasi masing-masing pihak untuk membantu pihak lain mencapai tujuan. Korea selatan menjadi peyokong pembangunan Vietnam melalui pendanaan serta pengalaman dan pengetahuan dalam menggerakkan partisipasi penduduk desa. Di sisi lain, Vietnam mampu memberikan justifikasi terhadap posibilitas pengadopsian SU oleh negara mampu memfasilitasi masing-masing pihak untuk membantu pihak lain mencapai tujuan. Korea menyokong pembangunan desa Vietnam melalui pendanaan serta pengalaman dan pengetahuan dalam menggerakkan partisipasi penduduk desa. Di sisi lain, Vietnam mampu memberikan justifikasi terhadap posibilitas pengadopsian SU oleh negara.

Indonesia

Sedangkan di Indonesia Saemaul Undong yang sudah berhasil dan menglobal juga di adopsi sebagai program pembanguan Indonesia, Proyek Saemaul Undong menggunakan Program Dana Desa yang berfokus pada meningkatkan kewenangan pemerintah desa sebagai entry kebijakan. Proyek Saemaul Undong memberikan dampak yang positif secara langsung terhadap Dana Desa. Namun, secara tidak langsung  menunjukkan hambatan dalam mewujudkan perubahan pola pikir ke dalam partisipasi dan hal ini menjadi masalah untuk indonesia (Pramadha and Lee, 2018)

Indonesia berupaya dalam mengambil kebijakan dan menerapkan Saemaul undong yang telah sukses di korea selatan. Saemaul Undong merupakan gerakan pembangunan yang digerakkan oleh masyarakat dengan menekankan pada semangat ketekunan, swadaya, dan kerja sama. Memiliki latar belakang yang hampir sama memberikan harapan bahwa program serupa yang berhasil dijalankan di Korea dapat pula diimplementasikan di Indonesia.Program ini berjlan dengan baik, dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat merupakan suatu harapan kedepan untuk indonesia dalam meningkatkan taraf perekonomian desa desa.

Uganda

Saemaul Undong yang telah sukses juga masuk ke Afrika, Korea selatan membagikan model pemangunan desa di uganda sebgai bentuk bantuan luar negerinya dari korea selatan. Melihat dari ketekunan, kooperatif, dan swadaya yang menginspirasi dari gerakan Saemaul Undong juga memberikan dampak yang signifikan dalam reformasi perdesaan di Uganda.

Dengan lebih dari 70% populasi perdesaan uganda yang memanfaatkan Agrikultur sebagai penunjang perekonomian desa. Dengan tata kondisi dari geografis uganda kerap mengalami iklim yang ekstrem dan kekurangan infrastruktur membuat uganda menjadi krisis.

Korea selatan memberikan bantuan berupa program Saemaul Undong yang memacu pembangunan pedesaan menjadi model pembangunan yang efektif dan menjadi model pembangunan untuk memerangi kemiskinan, menciptakan kekayaan dan meningkatkan modal sosial.

Pemerintah uganda tentunya menerima bentuk bantuan proyek Saemaul Undong dilihat bahwa negara uganda membutuhkan semacam ini untuk meningkatkan taraf ekonomi untuk kemajuan. Korea membantu membangun tujuh desa percontohan tambahan di distrik pusat Mpigi, membantu penduduk setempat menangani kebutuhan mulai dari pertanian, kesehatan dan infrastruktur hingga pendidikan dan pemerintahan (Arirang News, 2016).

Adanya bentuk keberhasilan dari program ini, bermula dari konteks internasional sehingga uganda menentukan pilihan untuk melakuka kerja sama dalam pembanguan ini. Dimana Korea Selatan disini memberi bantuan kepada semua desa Saemaul menjalankan program yang berbeda. Baik itu pengelolaan air, pembangunan jalan atau peningkatan pendidikan, penduduk setempat mengidentifikasi kebutuhan mereka sendiri dan membuat keputusan dalam pertemuan masyarakat. Ini adalah sistem yang mandiri berdasarkan kepercayaan dan kerja sama.

 



Referensi:

William D.Couplin, (1992) Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaahan Teoritis, Bandung : CV. Sinar Baru.

Lestari, I. (2016) ‘Kerja Sama Pembangunan Korea Selatan di Vietnam dalam Pengembangan Area Pedesaan melalui Model Saemaul Undong’, Global: Jurnal Politik Internasional, 18(2), p. 177. doi: 10.7454/global.v18i2.303.

Pramadha, R. A. and Lee, J. J. (2018) ‘Improving Community Participation in Rural Community Development Program: Case Study of Global Saemaul Undong Project in Ponjong Village, Gunungkidul Regency, Yogyakarta Special Region, Indonesia’, Journal of Saemaulogy, 3(2), pp. 27–Available at:https://www.academia.edu/38746396/Improving_Community_Participation_in_Rural_Community_Development_Program.

 

Posting Komentar

0 Komentar