Bercermin pada diri sendiri

Penulis: Avaya


Suara hati

Sebelum bertukar kata dengan lawan bicara, yang dikatakan percapakan merupakan pertukaran antara hati dengan hati. Kata-kata sebagai sarana. Meskipun kata-kata merupakan yang diucapkan adalah hal yang penting, namun hati orang yang mengucapkan kata-kata itu adalah hal yang paling penting. Sebab itu kita sebaiknya tidak mengatakan hal yang berbeda dengan kebenaran. 

Jiwa yang ada dalam tubuh harus membuat bibir dan lidah bergerak. Tidak hanya berbicara dengan gaya dan bahasa yang menjemukan, melainkan mampu menarik keluar ucapan tulus yang berada jauh dalam hati. Ucapan tulus disebut sebagai "suara hati". 

Ketika kita berbicara dengan menyuarakan suara hati, lawan bicarapun akan membuka telinga mereka, bukan telinga bagian luar yang tampak namun juga hatinya untuk mendengarkan suara hati kita. Orang-orang yang memiliki bahasa ibu yang berbeda sehingga sehingga komunikasi antar sesamapun menjadi terkendala atau sulit ada yang menjadi teman, atau bahkan lebih dari itu, yakni kekasih. Hal ini memungkinkan karena berbicara dengan menarik suara hati. 

Suara hati yang dilingkupi dengan jiwa, meskipun hanya sepatah kata dua kata atau bahkan tidak ada kata-kata yang terlontarkan, meskipun bahasa yang dikeluarkan berbeda, kita bisa mencapai tempat yang dalam di hati lawan bicara kita.

Jika kita tidak bisa mempertanggungjawabkan suara hati yang telah kita utarakan, suara hatipun akan menjadi sia-sia. Di depan lawan bicara, harus sesuai dengan kebenaran. Di belakang lawan bicara, kita harus bisa mempertanggungjawabkan ucapan. Dengan demikian dua hal tersebut menjadi pedoman untuk kita, maka orang lain akan bisa menaruh kepercayaan kepada kita.

***

Memaknai kehidupan sekarang

Terkadang dalam keseharian, saya senang menyendiri. Sebab dalam keadaan ini pikiran saya dapat berfikir lebih fokus perihal sesuatu yang membelenggu. Di hari ini, saya telah mencapai tahap keheningan dalam kesendirian. Walaupun masih dalam ruang publik, saya bisa mengkontrol itu semua. Dari sini, pikiran saya mengambang dan mulai memikirkan hakikat hidup. 

Saya menyadari bahwa akan tiba saatnya kita tidak hidup di semesta ini. Saat ini saya di sini, di dunia ini, namun suatu saat saya kan pergi.

Di dalam benak saya selalu terpikir akan kematian. Semakin penasaran, namun takut akan kematian. Berulangkali saya berpikir untuk membuat pikiran saya jernih kembali. Bahwa akan tiba saatnya saya memang akan mati, jadi apa yang kamu takutkan dari semua itu, dan semua orang juga akan mati , jadi tak perlu takut.

Setelah diperingatkan oleh pikiran saya sendiri, sayapun merefleksikan dengan kehidupan saya saat ini, bahwa saya senang bisa hidup dan menikmati keindahan yang tersebar di penghujung bumi. kendatipun baru sedikit yang saya temui dan semakin kesini saya semakin ingin tahu seluk-beluk terhadap dunia yang kita tempati.

Ah, kita tidak bisa merasakan hidup tanpa menyadari bahwa nantinya kita akan mati. Namun, sama mustahilnya bagi kita untuk menyadari bahwa kita harus mati tanpa memikirkan betapa menakjubkannya hidup ini.

Semakin kesini, saya semakin sadar. Ternyata hidup memang menakjubkan jika kita mengandalkan kebebasan yang kita miliki, tanpa memerintah dan diperintah oleh siapapun. Bergerak atas kemauan kita, namun terikat oleh etika dan moral agama. Atas dasar itu, sayapun bergerak  dan mulai menikmati setiap bagian dari dunia ini, baik keindahan alam semesta serta alam pikiran hingga menemukan keindahan dalam memandangnya.

Saya menyadari, bahwa kita hidup hanya sebentar di dunia ini. Kematian bisa terjadi kapanpun. Namun saya tidak ingin mati dalam keadaan yang tidak mengetahui apapun. Untuk itu, dalam memaknai hidup, saya mencari hakikat hidup, hakikat kehidupan, hakikat manusia, hakikat cinta, serta ilmu yang dapat saya amalkan dalam kehidupan ini. Terlepas dari itu, saya juga mendalami ilmu teologi, tak hanya dalam satu agama, namun banyak agama, agar kelak saya tidak terjebak dalam dogmatis satu agama, sehingga berpikir bahwa agama satu ini adalah agama paling benar. Saya paling menghindari hal demikian, namun dengan mengetahui agama lain saya bisa lebih menghargai dan menghormati secara bersama dalam menciptakan keharmonisan antar sesama manusia.

Mungkin sekian, teruslah belajar dalam hidup ini, karena itu perlu dan akan sangat bermanfaat bagi masa mendatang. Semangat dalam menjalankan hidup!

Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya (Goete)


2020


Posting Komentar

1 Komentar

  1. "Semakin kesini, saya semakin sadar. Ternyata hidup memang menakjubkan jika kita mengandalkan kebebasan yang kita miliki, tanpa memerintah dan diperintah oleh siapapun. Bergerak atas kemauan kita, namun terikat oleh etika dan moral agama."

    Ini bagian yang paling saya suka. Saya bisa merasakan bagaimana cara anda menuangkan pemikiran dan perasaan menjadi tulisan indah ini. Terima kasih!

    BalasHapus