Sejarah Perkembangan Psikologi hingga Munculnya Aliran-aliran dalam Psikologi Modern

Nabila Suci Andini
 

-

Psikologi Dengan Filsafat

Menurut asal katanya, psikologi berasal dari kata Yunani: psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu tentang jiwa. Namun, arti “ilmu jiwa” masih kabur sekali. Apa yang dimaksud dengan “jiwa”, tidak ada seorang pun yang tahu arti sesungguhnya. Dampak dari kekaburan arti itu, sering menimbulkan berbagai pendapat mengenai definisi psikologi yang berbeda. Banyak yang memberi definisi sendiri sesuai dengan arah minat dan aliran masing-masing.

Sebelum psikologi berdiri sebagai ilmu pengetahuan pada tahun 1879, psikologi (gejala kejiwaan) dipelajari oleh filsafat dan ilmu faal. Filsafat sudah mempelajari gejala kejiwaan sejak 500-600 tahun SM, yaitu melalui filsuf Yunani Kuno. Diantaranya adalah Thales (624-548 SM) yang dianggap sebagai Bapak Filsafat. Thales mengartikan jiwa sebagai sesuatu yang supernatural. Jadi, jiwa itu tidak ada, karena yang ada di alam ini hanyalah gejala alam (natural phenomena) dan semua gejala alam berasal dari air. Sedangkan, menurut Anaximander (611-546 SM) yang berpendapat bahwa segala sesuatu berasal dari apeiron yang artinya tak terbatas, tak berbentuk, tak bias mati (the boundless, formless, immortal matter), yaitu seperti konsep tentang tuhan di zaman sekarang. Beliau berpendapat bahwa jiwa itu ada.

Perkembangan psikologi dipengaruhi oleh 3 tokoh terkenal, yaitu Sokrates (469-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM), yang sering disebut dengan Trio-SPA. Plato adalah murid Sokrates, dan Aristoteles adalah murid Plato. Sokrates memperkenalkan teknik maieutic, yaitu wawancara dengan tujuan memancing keluar pikiran-pikiran dari seseorang. Ia percaya bahwa pikiran mencerminkan keberadaan jiwa di balik tubuh manusia. Plato berteori bahwa manusia mulai masuk ke tubuhnya sejak manusia ada dalam kandungan (seperti dalam konsep ajaran agama Islam, Kristen, Yahudi), dan memiliki tiga fungsi, yaitu Logisticon (akal) yang berpusat di kepala, Thumeticon (rasa) yang berpusat di dada, dan Abdomen (kehendak) yang berpusat di perut (mirip dengan konsep jiwa menurut Ki Hajar Dewantara tentang cipta, rasa, dan karsa).

Sedangkan, menurut Aristoteles yang menyumbangkan pikiran dalam tulisannya yang berjudul “The Anima” ia mengatakan bahwa makhluk hidup dibagi menjadi tiga golongan, yaitu Anima Vegetativa (tumbuhan), Anima Sensitiva (hewan), Anima Intelektiva (manusia). Hewan berbeda dari tumbuh tumbuhan karena hewan berindra (sensitiva), sedangkan tumbuh tumbuhan tidak. Namun, manusia juga berindra, berbeda dari hewan karena manusia punya kemampuan mengingat (‘mneme), yang menunjukkan bahwa manusia mempunyai kecerdasan (intelek).

Psikologi dan Kaitannya dengan Ilmu Faal

Era Ilmu Faal dimulai pasca-Renaissan. Para ahli Ilmu Faal (fisiologi) saat itu, mulai tertarik pada masalah kejiwaan. Para ahli ilmu faal berpendapat bahwa jiwa memiliki hubungan yang sangat erat dengan susunan syaraf dan refleks refleks. Dimulai dari Sir Charles Bell (1774-1842, Inggris) dan Francois Magendie (1783-1855, Prancis) yang menemukan syaraf-syaraf sensorik (penginderaan) dan syaraf-syaraf motorik (yang memengaruhi gerak dan kelenjar). Kemudian para ahli menemukan hal lain yaitu, pusat bicara di otak (Paul Brocca 1824-1880, Jerman) dan mekanisme refleks (Marshall Hall, 1790-1857, Inggris). Akhirnya muncullah definisi tentang psikologi yang mengaitkan psikologi dengan tingkah laku lalu mengaitkan tingkah laku dengan reflex. Contohnya, Ivan Pavlov (1849-1936, Rusia) menjelaskan psikologi sebagai ilmu refleks, karena hal itu psikologi tidak berbeda dengan Ilmu Faal.

Lahirnya Psikologi Modern

Perkembangan ilmu psikologi modern ditopang oleh tiga pilar utama. Pertama, ilmu psikologi harus bersifat universal artinya, ada beberapa prinsip umum dan juga hukum-hukum kemungkinan, yang bisa dijadikan tolok ukur pengembangan keilmuan. Misalnya studi mengenai persepsi dan memori. Kedua, berbasis pada metode empiris. Karena mengikuti pertimbangan rasional dari filsafat. Ketiga, riset sebagai lokomotif kemajuan. Pengaruh tiga pilar utama pengembangan ilmu psikologi di atas begitu kuat dalam tradisi keilmuan (baca: psikologi modern). Lantaran dampak penggunaan metode ilmiah yang dipaksakan dalam psikologi pada gilirannya telah memperparah proses dehumanisasi (manusia semata-mata sebagai obyek eksperimen yang dapat dikendalikan). Dalam psikologi modern terdapat enam aliran yaitu:

• Aliran strukturalisme; membahas tentang analisis atau proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen dasar serta usahanya menemukan hukum – hukum yang membawahi hubungan antar elemen.

• Aliran fungsionalisme; membahas tentang fungsi menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkan dalam kehidupan organisme tersebut.

• Aliran gestalt; membahas mengenai persepsi muncul karena kesatuan yang dinamis atau keutuhan.

• Aliran behavioristik; membahas mengenai belajar fokus pada perhatian yang dilakukan orang lain.

• Aliran psikoanalisis; membahas mengenai kepribadian yang dibagi menjadi tiga komponen yaitu: (id, ego, dan super ego).

• Aliran humanistik; membahas mengenai masalah kemanusiaan, seperti sifat manusia, perilaku nampak dan tidak tampak, kesadaran dan ketidaksadaran

Pada akhir abad ke-19 terjadilah babak baru dalam sejarah Psikologi. Pada tahun 1879, Wilhem Wundt (Jerman, 1832-1920) mendirikan laboratorium Psikologi pertama di Leipzig yang menandai titik awal Psikologi sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri. Sebagai tokoh Psikologi Eksperimental Wundt memperkenalkan metode Introspeksi yang digunakan dalam eksperimen-eksperimennya. Ia dikenal sebagai tokoh penganut Strukturalisme karena ia mengemukakan suatu teori yang menguraikan struktur dari jiwa. Wundt percaya bahwa jiwa terdiri dari elemen-elemen (elementisme) dan ada mekanisme terpenting dalam   jiwa   yang   menghubungkan   elemen-elemen   kejiwaan   satu dengan yang lainnya. Sehingga membentuk suatu struktur kejiwaan yang utuh yang disebut asosiasi. Oleh karena itu, Wundt juga dianggap sebagai tokoh Asosianisme.

Perkembangan Psikologi di Indonesia

Di Indonesia sendiri, Psikologi mulai berkembang pada tahun 1952. Psikologi di Indonesia diperkenalkan oleh seorang professor psikiater dari Universitas Indonesia yang bernama Slamet Imam Santoso. Di tahun tersebut, Slamet Imam Santoso ditunjuk sebagai ketua Jurusan Psikologi di Universitas Indonesia, sebagai Jurusan Psikologi pertama di Indonesia. Lulusan pertama dari Jurusan Psikologi adalah Bapak Fuad Hassan pada tahun 1958. Pada tahun 1960, Jurusan Psikologi berdiri sendiri sebagai sebuah fakultas dengan Slamet Imam Santoso sebagai dekan pertama, yang kemudian digantikan oleh Bapak Fuad Hassan (Psikologikucom, 2015).

Pada tahun 1961 berdiri Fakultas Psikologi di Universitas Padjajaran, Bandung yang diprakarsai oleh anggota TNI yang juga dikirim ke Belanda dan Jerman untuk mempelajari Psikologi dan kemudian ditempatkan di Angkatan Darat dan Angkatan Udara Bandung. Universitas ketiga yang memiliki jurusan psikologi adalah Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Pada awalnya jurusan psikologi terdapat di dalam Fakultas Pendidikan. Pada tahun 1964, Fakultas pendidikan berdiri sendiri sebagai sebuah institute, namun Jurusan psikologi tetap berada di-bawah naungan Universitas Gajah Mada dan kemudian berdiri sebagai Fakultas. Universitas keempat adalah Universitas Airlangga, Surabaya.
Di Universitas ini pada awalnya psikologi tergabung dalam Fakultas Ilmu Sosial. Namun pada tahun 1992, menjadi Fakultas Psikologi dengan para staf nya sebagian besar adalah alumni fakultas psikologi Universitas Gajah Mada (Psikologikucom, 2015). Setelah itu, Jurusan dan Fakultas Psikologi semakin banyak bermunculan hingga saat ini (Priscilla Nangoi, 2015).

Tokoh Pendiri Psikologi di Indonesia

Slamet Imam Santoso

Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso (lahir di Wonosobo, 7 September 1907 – meninggal di Jakarta, 9 November2004 pada umur 97 tahun) adalah seorang pakar psikologi Indonesia. Ia memelopori berdirinya Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan menjabat sebagai dekan pertama fakultas tersebut. Slamet Iman Santoso dikenal juga sebagai orang pertama yang mengusulkan gagasan di dunia pendidikan tentang pentingnya satu acuan yang sama untuk semua jenjang pendidikan di Indonesia. Gagasan tersebut beliau sampaikan pada 1979 hingga 1981. Slamet Imam Santoso meninggal pada usia 97 tahun pada Selasa, 9 November 2004. Istri beliau telah meninggal lebih dulu pada November 1983 (Novialuzni, 2015).

Organisasi Psikologi di Indonesia

Pendidikan psikologi di Indonesia diatur dan dikontrol oleh departemen pendidikan nasional, sedangkan ijin praktek psikolog diatur dan dikontrol oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dan departemen tenaga kerja. Di Indonesia terdapat Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2TPI) yang merupakan wadah bagi seluruh universitas yang menyelenggarakan pendidikan psikologi di Indonesia untuk dapat merumuskan segala hal yang terkait dengan pendidikan psikologi di Indonesia. HIMPSI sebagai wadah perhimpunan profesi psikologi di Indonesia, memiliki misi mengembangkan keilmuan dan profesi psikologi di Indonesia. HIMPSI didirikan pada 11 Juli 1159 dengan nama Ikatan Sarjana Psikologi (ISPsi) (HIMPSI, 2013). Pada tahun 1998, berlangsung Kongres Luar Biasa di Jakarta, ISPsi mengubah namanya menjadi Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Hingga tahun 2013, terdapat berbagai organisasi minat/ asosiasi dalam HIMPSI.

Pendidikan Psikologi di Indonesia

Pendidikan Psikologi berada di bawah kontrol Departemen Pendidikan Nasional. Kemudian izin praktiknya diatur oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Tahun 1998, HIMPSI tersebut terdiri dari tiga divisi yakni Psikologi Olahraga, Ikatan Psikologi Sosial dan Asosiasi Psikologi Industri dan Organisasi. Kurikulum lama untuk jurusan Psikologi harus memenuhi 158160 SKS. Namun pada tahun 1994, gelar psikologi diharuskan memenuhi 140 SKS saja.


REFERENSI

Dian Darmayanti, 2013. Sejarah dan pendidikan psikologi di Indonesia.
Novialuzni, 2016. Biografi Slamet Imam Santoso.
Priscilla Nangoi, 2015. Sejarah Psikologi Indonesia.
Sarwono, S. W. (2016). Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.



Posting Komentar

0 Komentar