Sejarah Psikologi Perkembangan

Nabila S Andini
 

-

Psikologi berasal dari kata Psyche dan Logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, secara harfiah “psychology” berarti “ilmu jiwa”. Psikologi secara umum yaitu ilmu yang berfokus pada perilaku dan berbagai proses mental serta bagaimana perilaku dan berbagai proses mental ini dipengaruhi oleh kondisi mental organisme dan lingkungan eksternal. Sedangkan definisi perkembangan adalah proses yang kekal dan tetap yang menuju ke arah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi berdasarkan pertumbuhan dan pembelajaran. Psikologi perkembangan merupakan cabang dari psikologi. Psikologi perkembangan memfokuskan kajian atau pembahasannya mengenai perubahan tingkah laku dan proses perkembangan dari masa konsepsi (pra-natal) sampai mati. Secara medis psikologi perkembangan (developmental psychology) disebut sebagai psikologi genetic. Jadi, definisi psikologi perkembangan adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia sepanjang rentang kehidupan manusia dari sejak dalam kandungan sampai lanjut usia.

Sejarah Psikologi Perkembangan

Sejarah psikologi bahkan ilmu pengetahuan yang kita kenal kebanyakan berpusat dari perkembangan awal sejarah eropa dari masa yunani, romawi hingga akhir abad 19 yang kemudian menyebar ke berbagai belahan dunia. Pada mulanya, psikologi perkembangan mengkhususkan diri pada masalah usia dan tahapan-tahapan. Para penyelidik terdorong untuk mempelajari usia yang khas dan berbagai tahapan perkembangan. Pada awal abad ke-19, psikologi mengalami kemajuan yang cukup pesat. Gustaf Theodore Fancher (1801-1950) dan Ernest Heinrich Weber (1975-1878) menemukan suatu hukum pengindraan melalui eksperimen yang dipublikasikan pada tahun 1860 dalam buku Element of Psychology. Puncaknya adalah ketika Wilhem Wundt (1831-1920) pada tahun 1879 mendirikan laboratorium psikologi pertama di Leipzig Jerman, dan peristiwa ini menandai psikologi sebagai ilmu sendiri. Tahun 1883 berdiri laboratorium serupa di Universitas John Hopkins. Tahun 1890 terbit buku The Principles of Psychology karangan William James (1842-1910), yang setahun kemudian menjadi professor psikologi dan sejak itu hamper semua universitas di Amerika memiliki fakultas yang mandiri. Di Indonesia perkembangan psikologi dimulai pada tahun 1953 yang dipelopori oleh Slamet Iman Santoso dengan mendirikan sebuah Lembaga yang sejajar dengan fakultas lain di Universitas Indonesia, yang kemudian dikembangkan di UNPAD dan UGM. Belakangan ini kemajuan psikologi semakin pesat, ini terbukti dengan munculnya tokoh-tokoh baru, misalnya B.F Skinner (pendekatan behaviour), Abraham Maslow (teori aktualisasi diri), Roger Wolcot (teori belahan otak), Albert Bandura (teori pembelajaran social), Daniel Goleman (teori kecerdasan emosi), Howard Gardner (teori Multiple Intelligences), dan lain-lain.

Tokoh-tokoh Perintis Psikologi Perkembangan

1.    Plato (427-347 SM), seorang filsuf dari Yunani. Menurut Plato, perkembangan ditentukan oleh faktor genetis. Potensi individu ditentukan oleh factor keturunan. Artinya, sejak lahir anak telah memiliki bakat-bakat atau benih-benih kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pengasuhan dan pendidikan.

2.   John Locke (1632-1704), seorang filosof dari Inggris, menurut John Locke pengalaman dan pendidikan merupakan factor yang menentukan perkembangan anak. Isi kejiwaan anak ketika dilahirkan ibarat secarik kertas yang masih kosong, dimana bentuk dan corak kertas tersebut sangat ditentukan oleh bagaimana kertas itu ditulisi. Dikenal dengan istilah “tabula rasa” (blank slate).

3.  Jean Jacques Rousseau (1712-1778), filosof dari Perancis abad ke 18 menentang pandangan-pandangan John Locke. Ia berpandangan bahwa anak berbeda secara kualitatif dengan orang dewasa. Ia sama sekali menolak pandangan bahwa bayi adalah makhluk pasif, yang perkembangannya ditentukan oleh pengalaman. Rousseau menolak pandangan bahwa anak memilki sifat bawaan yang buruk (innately bad). Sebaliknya Rousseu menegaskan bahwa: “All things are good as they come out of the hands of their creator, but everything degenerates in the hands of man.” (segala-galanya adalah baik sebagaimana keluar dari tangan Sang Pencipta, segala-galanya memburuk dalam tangan manusia). Dan dikenal dengan istilah “noble savage”, dan digolongkan sebagai pandangan yang beraliran “Nativisme”. Sebaliknya pandangan Locke merupakan aliran “Empirisme”. kedua pertentangan ini kemudian menjadi titik awal timbulnya “teori belajar” (learning theory) di kemudian hari.

Pembentukan Psikologi Perkembangan Secara Ilmiah

1.    Johan Heinrich Pestalozzi (1746-1827), seorang ahli pendidikan dari Swiss, beranggapan bahwa sumber penting untuk mempelajari anak adalah catatan-catatan harian mengenai perkembangan dan tingkah laku anak. Dan dia juga mendukung pendapat Rousseau bahwa seorang anak yang dilahirkan pada dasarnya mempunyai segi-segi yang baik, dan perkembangan selanjutnya banyak dipengaruhi oleh aktivitas anak itu sendiri

2.   Dietrich Tiedeman, adalah seorang tabib berkebangsaan Jerman, juga melakukan hal yang sama. Pada tahun 1787 Tiedeman memperkenalkan hasil penelitian berdasarkan catatan harian terhadap perkembangan anaknya sendiri yang berusia 2,5 tahun yang meliputi perkembangan sensoris, motoris, bahasa dan intelek anak.

3.   Charles Darwin (1809-1882), memberikan pengaruh yang sangat besar. Perhatian dan penyelidikan yang sesungguhnya tentang perkembangan anak melalui observasi langsung baru dimulai pada abad ke-19. meskipun jika disimpulkan catatan-catatan harian Darwin tidak bisa dikatakan mempunyai nilai-nilai ilmiah yang kuat. Tapi ini merupakan titik awal studi yang lebih sistematis. Pandangan biologis Darwin yang menganggap perkembangan sebagai pembukaan kemampuan dan ciri-ciri yang telah terprogram secara genetic, kemudian menjadi landasan bagi sejumlah teoritis psikologi perkembangan.

4.   Wilhelm Wundt (1832-1920), merupakan orang yang mempelopori psikologi menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri. Ditandai dengan berdirinya laboratorium psikologi pertama kali di Leipzig tahun 1879. Dia beranggapan bahwa experiment memiliki arti yang penting bagi psikologi dan dengan teliti ia membuat rumusan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah eksperimen. Ia juga sebagai pelopor Perhatian dan penyelidikan yang sesungguhnya tentang perkembangan anak melalui observasi langsung.

Studi Perkembangan Psikologi Modern

J.B. Watson, Perubahan dalam studi psikologi perkembangan terjadi setelah ia memperkenalkan teori Behaviorisme. Dalam teorinya Watson menggunakan prinsip-prinsip “classical conditioning” untuk memperjelas perkembangan suatu tingkah laku. Menurutnya prinsip-prinsip conditioning dan prinsip-prinsip belajar dapat diterapkan pada semua perkembangan psikologis.

Sigmund Freud, dalam kunjungannya ke Amerika atas undangan G. Stanley Hall pada tahun 1909 dalam ceramahnya ia menyampaikan penjelasan tentang teori psikoanalisisnya, yang menekankan pengalaman masa bayi dan anak-anak mempunyai pengaruh yang menentukan terhadap perkembangan kepribadian dan tingkah laku orang dewasa. Semula teori ini banyak ditentang oleh psikolog perkembangan. Baru sekitar tahun 1930-an dilakukan usaha yang sungguh-sungguh dalam bentuk penelitian tentang aspek perkembangan dari teorinya.

Namun pengaruh dari Watson, Freud dan tokoh yang lain dalam disiplin ilmu ini besar, namun sampai tahun 1930-an penelitian-penelitian psikologi perkembangan masih bersifat deskriptif. Dan ini yang menjadi kurang nya publikasi mengenai psikologi perkembangan ini, hingga sekitar tahun 1939-1949. Namun ternyata kemunduran ini tidak berlangsung lama karena pada tahun 1950-an psikologi perkembangan memasuki periode baru dalam tahap pertumbuhan dan perkembangannya. Dan ini berlangsung hingga saat ini. Terdapat tiga factor yang mendorong diaktifkannya kembali bidang studi psikologi perkembangan ini:

1. Terjadinya perubahan orientasi dalam riset-riset psikologi perkembangan hingga menjadi bersifat eksperimental dengan pengukuran dan pengontrolan eksperimen yang terbukti berhasil digunakan dalam eksperimen umum. 

2. Ditemukannya kembali hasil-hasil karya Jean Piaget, seorang psikolog dari Swiss yang secara terus –menerus   aktif melakukan penelitian mengenai perkembangan kognisi pada anak-anak dari bayi hingga remaja. Hingga ia mampu menyusun teori yang komprehensif tentang perkembangan kognisi. Ia menentang pendapat kaum behavioris yang menganggap perkembangan individu sepenuhnya dipengaruhi oleh factor lingkungan. Dan menentang pendapat ekstrem lainnya yang berpendapat bahwa perkembangan dipengaruhi sepenuhnya oleh pengaruh genetic atau keturunan.  Sebaliknya Piaget berpendapat, perkembangan terjadi sebagai hasil interaksi yang antara individu di satu pihak dan tuntutan lingkungan di pihak lain

3. Adanya minat baru terhadap asal mula tingkah laku (origin of behaviour) yang ditandai dengan meningkatnya riset terhadap bayi-bayi. Dan peningkatan ini didorong pula dengan alat-alat yang semakin modern pula

 

REFERENSI

Desmita. 2006. Psikologi perkembangan.  Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Gunarsa, Singgih; Yulia  Singgih Gunarsa. 2006. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: Gunung Mulia

Ratri, Dinie. 2012. Buku ajar perkembangan anak, Semarang




Posting Komentar

4 Komentar