Saya paham bahwa dia tidak tahu

Penulis: imamfarx


Jogja sepertihalnya hawa asing pada pagi itu. Saya selaku lelaki sedang tak ingin terlalu larut dalam mata wanita. Babak yang sulit dalam hidup adalah menghentikan gemuruh jantung saat mata bertemu dengan mata yang begitu dikagumi. Suasana kelas pagi itu barangkali membosankan, sebagian besar mahasiswa lebih tertarik dengan gadgetnya sendiri atau bercakap lirih dengan teman sebelahnya. Lain daripada mereka, mata saya justru sibuk mencuri apa yang keluar dari mulut wanita di kursi depan saya. Entah mata saya yang tidak beres, atau senyumannya yang kelewat menarik, intinya saya kewalahan. Jantung seperti tercekik seketika saat tak sengaja ia menoleh dan mata kami bertemu. Saya lihat betul itu sangat indah, lima detik selanjutnya saya paham bahwa itu indikasi jatuh cinta.

“nasi balap hari ini rasanya agak aneh, atau lidahku yang bosan ya?” ujar sumsal membuka percakapan di kantin usai kelas pada jam Sembilan. Sohib saya ini memang konyol dan menggemari dark-jokes meski kadang leluconnya lebih kepada garing.

“lupakan soal lidahmu. Kau tau? Gadis kecil barusan tersenyum dan menengok kepada saya, harusnya kau tahu kenapa saya diam” ujar saya pada sumsal. Gadis kecil, ya! Gadis kecil, itu adalah sebutan yang saya sematkan untuk wanita dengan mata bola dunia itu, selain karena tubuhnya yang tinggi tapi agak mungil, wajahnya juga sangat lucu.

“kau tak masuk akal, gitu doang bisa-bisanya sampai puasa ngomong” sarkasnya

“jantung deg-degan akan buruk kalau dibawa ngoceh sambil makan, mati karena kesedak tulang saya pikir sangat konyol”

Wanita itu, sungguh membuati saya betah di kampus. Memandanginya dari jauh sudah semacam ritual. Jagat raya seperti menempatkannya pada posisi terhormat bak seorang puteri, atau karena memang itulah namanya. Saya yang dulu kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang) kini manuver sebagai kunang-kunang (kuliang mandang, kuliah mandang). Tapi, jagat raya juga sulit dimengerti, ia bukan hanya menempatkan puteri satu itu di ruangnya, melainkan juga membuat suatu sekat antara saya dan dua bola matanya. Kami tak benar-benar bertemu, hanya berpapasan.

“Americano satu bung, kasih gula cair ya, dipisah” pesan Kano, seorang kawan saya di tempat saya bekerja. Saya Cuma mengacungkan jempol tanda menyanggupi. Selain pergi ke kampus dari panggi sampai siang, malam sampai dinihari saya menghabiskan waktu di kedai kopi kecil. Lebih baik kurang molor, tewas kelaparan di kota orang bukanlah tindakan menarik, kira-kira begitu motto saya sekarang.

“gadis kecil gimana nih bung? Ada perkembangan?” seloroh kano saat saya meletakan kopi pesanannya ke atas meja.

“pastinya ada, toh dia kan masih hidup. Tumbuh dan berkembang sudah tentu terjadi” saya menjawab sambil beranjak duduk dan menyalakan kretek setelahnya.

“ah kau ini, maksudku bukan perkembangan biologis. Sudahlah, aku tidak ingin bicara lebay, kau pasti tahu maksudku bagaimana”

“muka bengalmu itu tidak pas untuk membicarakan asmara, tapi karena kebetulan sedang sepi, saya kira tidak masalah” ujar saya sembari tertawa mengejek

“sialan, jadi bagaimana?” dia seperti sangat penasaran

“sama seperti sebelumnya” jawab saya sinis dilanjut menyesap kopi

“seperti majas kemarin maksudmu? Seperti bunga di taman?”

“begitulah” jawabku sambil menghempaskan kabut rokok

“Cuma bisa dipandang, tidak untuk dipetik dan dibawa pulang” imbuhku

“hahaha, berapa kali harus kubilang? Pepet saja, toh dia jomblo kan?”

“pepat-pepet, kau kira truk? Jelas-jelas punya pasangan kau bilang jomblo” sanggahku, tawa kano seketika padam.

Wanita ini; di mata saya, entah mengapa tampak istimewa. Kepribadiannya sangat sulit diterka. Dia berbeda dari kebanyakan wanita, tak pernah dia mengirim foto-foto ke dunia maya. Jika harus menjelaskan kenapa saya jatuh cinta, saya tidak bisa. Semua berawal dari senyumannya. Cinta sepertihalnya biji tanaman, akan tumbuh begitu terkena air hujan. Senyumannya adalah hujan yang membuat saya tetap bersemi di kemarau panjang, meskipun penyekat antara saya dan kedua bola matanya, adalah mata kekasihnya.

Pagi ini, lingkungan kampus; riuh seperti biasanya. Ia berjalan sedikit letih daripada hari sebelumnya. Sebagian Wajahnya ditutup masker berwarna tosca dan satu tangannya membawa sebungkus tisu. Entah bagaimana ceritanya,  dugaan saya dia terkena flu. Di dalam kelas dia duduk berselang satu kursi di depan saya. Saya di baris nomor lima, dia di baris nomor tiga. Dia terlihat sesekali menyeka hidungnya yang memerah karena gejala sakitnya. Wajahnya tampak pucat dan matanya sayu. Berlebihan jika saya bilang bahwa saya turut sakit melihat kondisinya, tapi bohong jika saya bilang tidak. Saya ingin bergeser ke depan dan duduk di kursi samping tempat duduknya, karena kebetulan tidak ada yang menempati. Peduli amat sama isi dompet, saya harus menyeretnya ke dokter setelah ini!, Pikir saya. Kalau kurang, saya bisa mengajukan kasbon ke tempat kerja, yang penting gadis kecil bisa lekas pulih, selambat-lambatya dua hari sejak hari ini. Semenjak jatuh cinta, tidak melihat senyumannya satu hari saja adalah hal yang terasa buruk. Tidak, saya tidak sedang memburu hatinya, saya lebih bergembira jika ia langgeng dengan kekasihnya. Terlebih, kehidupan saya saat ini sangat sulit, saya tidak ingin membawanya ke kehidupan saya dan ikut merasakan susah. Selain alasan-alasan itu, saya juga sadar betul bahwa tampang saya tidak menjamin. Saya mengemasi peralatan saya ke dalam tote-bag dan berniat duduk di kursi samping tempat duduknya. Tapi, belum sempat saya bertolak, lelaki lain lebih dahulu menempatinya. Saya lihat, lelaki itu menatap matanya.

Wanita ini, saya tidak pernah mengajaknya berbicara. Tidak ada tegur sapa yang terjadi tiap kali kami berpapasan di jalan yang sama. Paling-paling saya hanya akan menengok dan melihat punggungnya yang dibawa menjauh ke arah berlawanan. Pernah beberapa kali saya mengiriminya pesan singkat, ini saya lakukan apabila libur panjang tiba dan kampus tidak bisa mengakomodir keinginan saya untuk melihatnya. Jika saya boleh memakai istilah puitis, saya akan pakai istilah rindu untuk kalimat ini. Tapi jika tidak boleh, saya akan tetap memakainya, karena pada kalimat ini saya memang sungguhan rindu. Sebagai lelaki yang tak terbiasa menyusun kalimat untuk wanita, paling banter saya hanya basa-basi menanyakan suasana kota tempat tinggalnya, dilanjut menanyakan kabarnya. Kalimat-kalimat pendek dari balasannya adalah obat penenang bagi rindu yang kadang-kadang susah diajak kompromi.


“hey bung!” bentak erlin yang tiba-tiba nyelonong ke kedai waktu saya melamun. Saya terkejut, tentu saja

“sialan, bikin kaget. Mau pesan apa?” Tanya saya pada erlin yang sudah duduk di depan saya

“ntar aja deh” jawabnya sembari mengeluarkan laptop dari tas

“oh, bagus lah. Kebetulan kamu datang. Saya butuh pendapat wanita” ujar saya erlin tertegun seketika, merasa heran

“wah ada apa nih bung?” erlin mengangkat sebelah alisnya

“khem! Begini, saya sedang memikirkan hadiah ulang tahun untuk wanita. Barangkali kamu punya saran”

“aku harus tau dulu dong, hadiah untuk sahabat, pacar atau temen, saudara?”

“tidak untuk mereka semua” tukas saya singkat, erlin tampak bingung

“bentar, bentar, terus mau bung kasihin ke siapa, orang tua?”

“saya tidak tahu istilahnya. Sebaiknya kamu mulai katakan saran yang pas”

“untuk wanita ya….” Erlin tampak berpikir

“nah, coba kasih aja sepatu, jam, boneka atau apalah” saran erlin

“ah, percuma saya minta saran ke kamu. Coba lah kasih saya saran yang tidak melibatkan banyak uang”

“haha, maap. Gini aja deh bung, ulang tahunnya kapan?”

“dua bulan lagi”

“nah, coba bung cari lagu yang dia sukai, terus nyanyikan di hari ulang tahunnya sebagai hadiah”

“hah? Nyanyi? Kamu kan tahu suara saya bagaimana”

“yaelah, kan masih dua bulan bung. Bisa lah latihan dulu biar gak fals-fals amat” erlin bicara sembari terkik.

“ada saran lain?” Tanya saya antusias

“enggak!” ujar erlin singkat, dan berjalan ke meja bar

Saran erlin yang pertama tidak bisa saya terima, mengingat dompet saya yang nyaris selalu kering. Kalaupun isi, palingan hanya cukup untuk satu set jepit rambut. Sedangkan pengamatan saya lebih sering melihat dia mengikat rambut daripada menjepitnya. Tapi untuk saran ke dua, bolehlah dicoba. Dua bulan mungkin cukup untuk memermak suara saya jadi sedikit ramah di telinga. Mencari lagu yang dia sukai bukanlah suatu hal yang sulit. Kebetulan dia juga mahir nyanyi, dari lagu-lagu yang sering dia nyanyikan saya jadi sedikit paham selera musiknya, selebihnya saya sok tahu saja. Harus saya akui, dia bernyanyi dengan sangat baik. Suaranya tidak membuat pekak di telinga, sering saya mengunduh diam-diam saat dia mengunggah video bernyanyi dan memutarnya tiap merasa (sekali lagi) rindu.

Lima puluh tiga hari telah terlewat. Saya telah memilih satu lagu untuk saya pelajari, saya pikir sepertinya itu lagu yang dia sukai. Dari mencocokan nada hingga menghafal chord-chord gitar, semua saya pelajari dengan betul-betul agar jangan sampai mengecewakan. Bunyi nada dari mulut saya-pun sudah lumayan manusiawi. Setidaknya, untuk sekarang Cuma ini yang bisa saya hadiahkan untuk ulang tahunnya.

Hari ini, saya mengunjungi laut dan menuliskan namanya di bibir pantai. Daun-daun kelapa seolah bertepuk tangan, gemuruh ombak seperti bersorak. Saya memainkan gitar dan segera menyanyikan Fly me to the moon – Frank sinarta, lagu yang telah kupelajari selama dua bulan. Saya meneriakkan ucapan selamat ulang tahun untuknya ke hamparan samudera. Hari ini, 28 september, saya terus merayakan hari spesialnya, meski saya paham bahwa dia tidak tahu.


-2020

Posting Komentar

0 Komentar