Dobrakan intelektual menuju revolusi industri

Penulis: MR. Alva Rizky


 
 |Masa renaisans menghantarkan para intelektual untuk mendobrak garis keilmuan yang berpusat pada teosentris menjadi antroposentris, hal ini menjadi bentuk kelahiran pemikiran-pemikiran modern karena adanya pergeseran paham keilmuan pada abad pertengahan yang bertahap dan diwarnai oleh Gerakan Gerakan intelektual serta politis yang kritis pada abad pertengahan. Hadirnya revolusi keilmuan tersebut memicu berkembangnya pemikiran yang lebih inovatif ini, mengahantarkan bentuk transisi pemikiran terkait bagaimana negara mampu mengembangkan ekonominya dalam hal proyek industri yang bermula menggunakan peralatan manual menuju penggunaan teknologi bertenaga mesin sebagai alat produksi yang menggantikan tenaga manusia. Perubahan itu disebut sebagai revolusi Industri.

Inggris sebagai perintis pertama dalam mengubah pola tenaga kerja yang memanfaatkan teknologi bermasin uap yang dikontrol oleh tangan dan kaki manusia. Revolusi industri menjadi bentuk revolusi pemikiran, menggantikan cara lama dengan pola hidup baru dalam sosial masyarakat. Hakikatnya revolusi ini menjadi bentuk perubahan dalam hal cara memproduksi barang yang semula dikerjakan dengan tangan (tenaga manusia) kemudian digantikan dengan tenaga mesin. Dengan demikian, barang-barang dapat dihasilkan dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif singkat.

Revolusi industry tentunya berkaitan dengan paham Kapitalisme. Paham ini hadir atas bentuk kelelahan masyarakat dengan sistem feodalisme yang mendominasi Eropa dalam kurun waktu yang lama, yakni sekitar tahun 1500 M hingga menjelang pertengahan tahun 1700 M. Titik berat Kapitalisme didasarkan pada persaingan dalam hal pengejaran keuntungan sebanyaknya dengan meminimalkan kerugian yang ada. Kapitalisme berdampak besar bagi para pemilik modal yang tentunya menguntungkan untuk mereka sebab adanya bentuk praktik monopoli kapitalistik dengan membangun perindustrian serta melakukan perdagangan internasional untuk meningkatkan surplus dan meningkatkan kekayaan sebagai hasil penjualan barang produksi.

Kaum Borjuis memiliki pandangan yang jauh dari masyarakat umum yang bekerja sebagai buruh. Pola pikir mereka menekankan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari pada sebelumnya. Sistem ekonomi kapitalis yang dibangun oleh pihak Borjuis mampu bersaing dengan sistem feodal dan akhirnya mampu meruntuhkan sistem tersebut.

Namun momen yang menguntungkan dengan industrialisasi yang meningkatkan output ekonomi yang secara keseluruhan dan meningkatkan standar hidup kelas menengah dan atas ini justru menimbulkan bentuk kritik oleh masyarakat miskin dan kelas pekerja yang terus berjuang untuk keluar dari bentuk ketimpangan semacam ini. Dewasa ini kita hidup dalam realitas revolusi industri yang telah berkembang secara optimal bagi negara-negara maju yang saat ini negara berkembang pun cukup dapat dirasakan impak yang telah massif diberlakukan oleh negara maju. Namun dalam kungkungan revolusi industri yang hadir dari barat dapat dirasakan menguak bentuk implikasi yang kontraproduktif seperti arus urbanisasi yang masif, kerusakan lingkungan, dan kesenjangan sosial terhadap masyarakat. Penindasan yang secara kasat mata dari para pemilik modal kapitalis mempertemukan strata sosial antara kaum Borjuis dan Proletar. Namun memang realitas memang menunjukkan bahwa saat ini merupakan revolusi industry dan merupakan eranya Kapitalisme.

Jika kita melihat skala yang lebih luas revolusi industry yang merupakan praktik praktik kapitalisme juga menciptakan pasar bebas. Dalam pasar bebas yang kuat yang akan menang sedangkan yang lemah akan terpuruk atau bisa dikatakan sebagai “survival of the fittest”. Melalui pasar bebas para kaum kapital semakin beringas dalam mengejar keuntungan sebesar-besarnya dalam persaingan. Karna pada dasarnya system internasional yang anarki membuat persaingan selalu terjadi yang tidak memperdulikan adanya korban-korban. Dalam teori system internasional negara terbagi dalam golongan yakni core sebagai pusat inti dalam dunia kapitalistik yang mendominasi dalam hal modal dan terus mengeksploitasi negara golongan dibawahnya dalam tenaga kerja dan bahan-bahan mentah, semi-periferi golongan yang bergantung pada negara inti, dan periferi sebagai menjadi golongan terendah. Adanya bentuk pengklasifikasi golongan ini menciptakan suatu arus hubungan yang timbal-balik dimana negara kapitalis yang mendominasi akan selalu membutuhkan usaha untuk mengeksploitasi keuntungan yang masif sesuai zaman yang berlangsung. Sehingga sikus ini akan kerap berputar putar terus menerus.

Tentunya melihat kondisi sekarang kita sebagai manusia perlu mengasah pemikiran dan daya intelektual untuk mempersiapkan diri kita akan arus dari globalisasi dimana saat ini merupakan era berkembangnya teknologi sehingga adanya implementasi bentuk-bentuk kapitalisme yang berjalan. Maka kita perlunya memahami akan literasi baik dari segi pengetahuan maupun digital, entah ini menjadi ancaman ataupun peluang sebagai manusia perlunya bijak memahami kondisi yang sedang berlangsung akan fenomena yang ditampilkan saat ini. 

 

Referensi:

History.com Editors. “Industrial Revolution.” A&E Television Network, October 9, 2009. https://www.history.com/topics/industrial-revolution/industrial-revolution.

Septianingrum, Anisa. Revolusi Industri : Sebab Dan Dampaknya. Cetakan 1. Yogyakarta: Sociality, 2017.

Sumawinata, Sarbini. Politik ekonomi kerakyatan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.

 

Posting Komentar

0 Komentar