Budaya Wayang sebagai Perlambang Hidup Manusia

Big Smoke


Hidup dan Kehidupan manusia adalah dua hal yang berbeda, hidup manusia dimulai dari setelah manusia dilahirkan sampai manusia napas terakhir atau kematiannya, sedangkan kehidupan manusia adalah aktifitas sehari-hari yang dijalani oleh manusia. Manusia menjalani kehidupannya dari bangun tidur hingga saat akan terlelap tidur. Kehidupan manusia tentu saja memiliki tuntunan dan pedoman yang berfungsi sebagai batasan perilaku manusia supaya tidak menyalahi kodratnya sebagai manusia, serta menjadikan manusia sebagai makhluk yang memiliki integritas yang menjalankan tata tertib kehidupan.

Tata tertib kehidupan manusia memiliki ruang lingkup antara ‘yang boleh’ dilakukan dan ‘yang tidak boleh’ dilakukan oleh manusia, sebagaimana yang kita kenal sebagai etika. Semua manusia tentu saja mengenal etika, tetapi tidak semua manusia mampu menjalankan dan mempraktikannya dalam kehidupan sehari-harinya. Manusia seharusnya sudah mempelajari persoalan etika sudah dimulai dari ruang lingkup yang terkecil yaitu lingkungan keluarga, seperti saling menghargai, saling menghormati, saling menjaga satu sama lain dengan anggota keluarga. Persoalan etika pun dapat dipelajari dari kesenian dan kebudayaan suatu tempat. Tak terkecuali kesenian dan kebudayaan wayang golek yang berasal dari Jawa Barat, wayang golek tentunya memiliki sebuah pesan etika atau tuntunan kehidupan manusia.

Eksistensi wayang golek sudah terkenal bukan hanya di Indonesia saja, melainkan sudah terkenal sampai mancanegara dan yang membuat lebih membanggakannya lagi adalah wayang golek sudah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda asal Indonesia bersamaan dengan wayang kulit. Dalam pagelaran wayang golek di Jawa Barat tidak hanya mengandung makna etika tetapi mengandung juga makna keindahan atau estetika dari pagelaran maupun dari tokoh wayangnya.

Sejarah Wayang

Wayang salah satu puncak seni budaya bangsa Indonesia yang paling menonjol di antara banyak karya budaya lainnya. Budaya wayang meliputi seni peran, seni suara, seni musik, seni tutur, seni sastra, seni lukis, seni pahat, dan seni perlambang. Budaya wayang yang terus berkembang dari zaman ke zaman, juga merupakan media penerangan, dakwah, pendidikan, hiburan, pemahaman filsafat, serta hiburan. Menurut penelitian para ahli sejarah kebudayaan, budaya wayang merupakan budaya asli Indonesia, khususnya di pulau Jawa. Keberadaan wayang sudah berabad-abad sebelum agama hindu masuk ke pulau Jawa. Walaupun cerita wayang yang popular di masyarakat masa kini merupakan adaptasi dari karya sastra india, yaitu Ramayana dan Mahabarata. Kedua induk cerita itu dalam pewayangan banyak mengalami pengubahan dan penambahan untuk menyesuaikannya dengan falsafah asli Indonesia.

Penyesuaian konsep filsafat ini juga menyangkut pada pandangan filosofis masyarakat Jawa terhadap kedudukan para dewa dalam pewayangan. Para dewa dalam pewayangan bukan lagi merupakan sesuatu yang bebas dari salah, melainkan seperti juga mahluk Tuhan lainnya, kadang-kadang bertindak keliru, dan bisa jadi khilaf. Hadirnya tokoh Punakawan dalam pewayangan sengaja diciptakan para budayawan Indonesia (tepatnya budayawan Jawa) untuk memperkuat konsep filsafat bahwa di dunia ini tidak ada makhluk yang benar-benar baik, dan yang benar-benar jahat. Setiap makhluk selalu mengandung unsur kebaikan dan kejahatan.

Dalam disertasinya berjudul Bijdrage Tot De Kennis Van Het Javaansche Toonel (1897), ahli sejarah kebudayaan Belanda GA.J. Hazeau menunjukan keyakinan bahwa wayang merupakan pertunjukan asli Jawa. Pengertian wayang dalam disertasi Hazeau itu adalah Walulang Inukir (kulit yang diukir) dan dilihat 8 bayangannya pada kulit. Dengan demikian wayang yang dimaksud tentunya adalah Wayang kulit seperti yang kita kenal sekarang.

Sekitar tahun 1583 Sunan Kudus yang merupakan salah satu penyebar agama Islam di Pulau Jawa pernah membuat kurang lebih 70 buah wayang dari kayu. Wayang tersebut dipertontonkan di siang dan malam hari dengan sumber cerita lokal atau imajinasi sendiri yang tentunya sarat dengan pesan agama Islam. Sunan Kudus menggunakan bentuk wayang golek awal ini untuk menyebarkan Islam di masyarakat. Munculnya kesenian wayang kayu lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara pulau Jawa pada awal abad ke-17. Oleh karena masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur telah terlebih dahulu mengenal wayang kulit, kehadiran wayang golek kurang begitu berkembang karena masyarakat di sana terlanjur menggemari wayang kulit. Namun wayang golek Sunan Kudus itu menarik hati dari ulama atau sekurang-kurangnya santri Cirebon yang sedang berkunjung (atau berguru) ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya ide wayang golek itu dibawa ke Cirebon.

Pementasan wayang golek di Tanah Parahyangan dimulai sejak Kesultanan Cirebon berada di tangan Panembahan Ratu (1540-1650) cicit dari Sunan Kudus. Wayang yang dipertunjukkan saat itu adalah wayang cepak (wayang golek papak), disebut demikian karena memiliki bentuk kepala yang datar. Selanjutnya ketika kekuasaan Kesultanan Cirebon diteruskan oleh Pangeran Girilaya (1650-1662), wayang cepak semakin populer dimana kisah babad dan sejarah Tanah Jawa menjadi inti cerita, yang tentunya masih sarat dengan muatan agama Islam.

Lalu wayang golek dengan cerita dari epos Hindustan seperti Ramayana dan Mahabarata seperti yang sekarang mulai hadir kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata tersebut kemungkinan besar pertama kali lahir dan berkembang dalam pertunjukan wayang kulit. Semula kisah tersebut menggunakan bahasa Jawa. Namun, setelah banyak dalang-dalang dari kalangan orang Sunda, maka bahasa Sunda pun mulai menggantikan penggunaan bahasa Jawa.

Perkembangan selanjutnya adalah wayang golek purwa yang tidak bisa dilepaskan dari peran Wiranata Koesoemah III (Bupati Bandung ke-6). Beliau sangat menggemari wayang, tetapi ia menginginkan suatu pertunjukan yang lebih menarik dan memiliki nilai-nilai ke-Sunda-an. Akhirnya ia meminta salah seorang pengrajin wayang kulit bernama Ki Darman (pegiat wayang kulit asal Tegal) di daerah Cibiru, Ujungberung, Bandung untuk membuat bentuk wayang golek yang lebih menarik dengan bentuk kepala/rupa yang benar-benar menyerupai manusia. Maka lahirlah bentuk Wayang Golek Sunda seperti yang kita lihat sekarang. Wayang golek semakin populer, tidak lagi sebatas konsumsi kaum menak, tapi masyarakat biasa pun mulai menggemari wayang golek ini. Wayang golek pun semakin menyebar ke segala penjuru Jawa Barat setelah dibukanya De Grote Postweg (Jalan Raya Daendels) yang menghubungkan daerah-daerah di Jawa Barat.

Pada awalnya pertunjukan wayang golek diselenggarakan oleh para kaum priyayi (kaum bangsawan sunda) di lingkungan istana atau kabupaten baik untuk kepentingan pribadi ataupun keperluan umum. Fungsi pertunjukkan pada kala itu masih bergantung pada permintaan para bangsawan. Pagelaran seni wayang golek memiliki tujuan bermacam-macam, dari mulai yang sifatnya ritual, ataupun dalam rangka tontonan atau hiburan semata. Pertunjukkan yang bersifat ritual sudah jarang dipentaskan, misalnya saja pada upacara sedekah laut atau sedekah bumi, yang biasanya hanya diadakan setahun sekali.

Kemudian pada abad ke-20 perubahan-perubahan bentuk wayang golek menjadi semakin baik dan sempurna. Hasilnya dapat dilihat pada perkembangan wayang golek yang sering kita jumpai pada masa sekarang ini, wayang golek yang akrab kita temui tersebut adalah penyempurnaan bentuk dari wayang golek purwa Sunda. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, pagelaran wayang golek mula-mula eksklusif dilaksanakan oleh kaum bangsawan, terutama para penguasa seperti bupati di Jawa Barat mempunyai cukup andil dalam perkembangan kesenian wayang golek di Jawa Barat.

Asal-usul Wayang

Wayang di dunia ada dua pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir pertama kali di pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti sarjana-sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan Kruyt.

Alasan mereka cukup kuat. Bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan tidak di Negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa (Kuna), dan bukan bahasa lain. Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Ressers. Sebagian besar kedua kelompok ini adalah sarjana inggris.

Sejak tahun 1950-an, buku-buku pewayangan seolah sudah sepakat bahwa wayang memang berasal dari pulau Jawa, dan sama sekali tidak diimpor dari Negara lain. Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada zaman pemerintah Prabu Airlangga, Raja Kahuripan (976-1012), ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmurnya. Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para pujangga Indonesia, sejak abad ke-10. Naskah sastra kitab Ramayana Kakimpoi berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (989-910), yang merupakan gubahan dari kitan Ramayana karangan pujangga India, Walkmiki. Para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa Jawa Kuno, tetapi mengubahnya dan menceritakan kembali dengan memasukkan falsafah Jawa ke dalamnya.
Wayang sebagai suatu pergelaran dan sudah dipertontonkan sejak zaman Pemerintahan Raja Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata “Mawayang” dan “Aringgit” yang maksudnya adalah pertunjukan wayang.

Perkembangan Wayang 

Perkembangan kesenian wayang di Bandung mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan dan ditentukan oleh manusianya itu sendiri. Proses perkembangan kesenian wayang tidak terbentuk langsung begitu saja dan tidak melalui beberapa tahapan.

Kesenian pertunjukan wayang yang populer di Bandung adalah Wayang golek. Wayang golek merupakan kesenian tradisional dari Jawa barat yaitu kesenian yang menampilkan dan membawakan alur sebuah cerita yang bersejarah. Wayang golek ini menampilkan golek yaitu semacam boneka yang terbuat dari kayu yang memerankan tokoh tertentu dalam cerita pewayangan serta dimainkan oleh seorang Dalang dan diiringi oleh nyanyian serta iringan musik tradisional Jawa Barat yang disebut dengan degung.

Wayang golek sebagai seni pertunjukan rakyat memiliki fungsi yang relevan dengan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material. Hal demikian dapat dilihat dari beberapa kegiatan di masyarakat, misalnya ketika ada perayaan, baik hajatan (pesta kenduri) dalam rangka khitanan, pernikahan dan lain-lain, adakalanya diiringi dengan pertunjukan Wayang Golek. Secara spiritual masyarakat mengadakan ruwatan guna menolak bala, baik secara komunal maupun individual dengan mempergunakan pertunjukan wayang golek.

Pertunjukan Wayang Golek tidak hanya berperan sebagai sarana hiburan. Di dalamnya juga terkandung nilai-nilai yang bisa dipetik bagi kehidupan. Nilai tersebut tidak hanya bersangkutan dengan hal-hal spiritual atau religi, tetapi juga bersangkutan dengan personal-personal etika kehidupan, bahkan politik.

Dalam catatan sejarah, kemunculan Wayang Golek di Bandung diprakarsai oleh Dalem Karanganyar (Wiranta Koesoemah III) pada masa akhir jabatannya (1829-1946). Pada waktu itu Dalem Karanganyer mengundang Ki Dalang Dipa Guna Permana dan Ki Rumyang yang tinggal di Cibura Ujungberung untuk membuat wayang dari kayu dan mengajar para calon Dalang di Bandung. Dari sekian banyak murid Ki Dapa Gunapermana itu ada seorang murid yang menonjol bakatnya bernama Mama Anting. Mama Anting diharuskan menyajikan Wayang Golek menggunakan bahasa Sunda dan ternyata respons para penonton itu sangat positif. Salah seorang murid Mama Anting yang amat menonjol bakatnya ialah Ki Dalang Brajanata dalang intelek pada saat itu. Dia satu-satunya dalang yang berzasah Holland Inlandse Kuweekschool (HIS). Pola pertunjukan yang dilakukan oleh Mama Anting, dilakukan pula oleh Ki Dalang Brajanata dan menjadi pola garapan pada dalang sekarang. Selain itu Brajanata telah mempersenjatakan seorang ronggeng atau Biduanita Ny. Arwat di dalam pertunjukan wayang goleknya. Awalnya pergelaran wayang itu tanpa dilengkapi suara ronggeng. Ia pun telah memasukan Bahasa Melayu (Indonesia) khusus untuk dialog Buta Cakil.

Tahun 1970-1975 pertunjukkan Wayang Golek mengalami kemakmuran, setelah Abah Sunarya menggarap pementasan wayang. Namun pada tahun 1975 putra Abah Sunarya yang bernama Ade Kosasih Sunarya muncul dengan kreasinya yaitu membuat wayang dari bahan baru, yaitu dari karet. Pembuatan wayang karet itu merupakan rekaan dalam penampilan para raksasa, antara lain para raksasa yang bisa memakan kerupuk, muntah mie, pecah kepala hingga mengeluarkan darah atau otaknya dan sebagainya. Peristiwa pementasan wayang Ade Kosasih Sunarya itu menjadi bahan pembicaraan para penonton, tidak sedikit anggota masyarakat yang tertarik pada pertunjukan itu.

Pada tahun 1978 adik Dalang Ade yaitu Asep Sunandar Sunarya menampilkan gaya hampir sama. Kelebihan Asep Sunandar Sunarya adalah trik di bidang menarikkan dan memerankan wayang. Bentuk tokoh yang sudah ada diubahnya dengan hingga wayang tidak lagi kaku, namun menjadi lebih hidup. Beberapa trik yang diciptakan oleh Asep Sunandar Sunarya antara lain mulut wayang bisa bergerak, kepalanya bisa bergoyang, telinga dapat dimainkan, matanya bisa digerakkan ke kiri dan ke kanan, ke atas dan ke bawah. Perkembangan kesenian wayang di Bandung tidak hanya sampai situ saja. Pada dekade 1990-an pertunjukan wayang mulai mengalami perubahan bukan hanya pada bentuk sajian garapan lakon, tetapi telah merubah pada hal-hal tampilan atau fisik wayang dan fisik presentasinya.

Pada tahun 2000-an keresahan dan kegelisahan sebagian besar dalang sangat terasa menghimpit kesenimanan, undangan tanggapan untuk mendalang hampir tidak ada padahal hidup ini harus dilanjutkan. Maka muncul gebrakan-gebrakan yang sempat membuat kejutan yang berkepanjangan, yaitu memunculkan bukan saja garapan fisik perangkat kesenian wayang, tetapi dengan teknik wayang tingkat dengan menggunakan unsur teknologi. Semua keresahan dan kegelisahan maka timbulnya banyak kelompok-kelompok kesenian wayang modern di Bandung, dengan gaya baru di antaranya adalah Kelompok kesenian wayang ‘Pojok Si Cepot’ dengan pimpinan Riswa Darusman, ‘Tewaisun’ (Teater Wayang Sunda) yang di pimpin oleh Arthur. S. Nalan, ‘Wayang Kroncong’ yang dipimpin oleh Asep Budiman, ‘Wayang golek Rampak 40 Dalang’ pimpinan Tantan Sugandi (SMKN 10 Bandung), ‘Gambar Motekar’ yang diprakarsai oleh Herry Dim, ‘Wayang Khakufi’ yang diprakarsai oleh Arthur. S. Nalan, ‘Wayang Tavip’ yang diprakarsai oleh M. Tavip.

Semua jenis wayang yang tersebut merupakan suatu bentuk baru terhadap dunia pewayangan apabila dilihat dari pertunjukannya maupun media wayang dan 12 gaya pedalangan. Berkembangnya jenis wayang tersebut diilhami oleh jenis wayang yang telah ada sebelumnya namun dilakukan perubahan yang mempunyai cerita inovatif yang tidak mengorbankan esensi dari pertunjukan wayang tersebut.

Fungsi Wayang

1.Wayang sebagai Sarana Komunikasi

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lainnya dengan menggunakan media. Wayang dapat menjadi salah satu media komunikasi yang efektif untuk menyampaikan berbagai informasi yang diperlukan masyarakat. Wayang menjadi salah satu pilihan media komunikasi selain pemanfaatan teknologi seperti radio, internet dan media massa lainnya.

2.Wayang sebagai Sarana Dakwah Agama

Saluran Islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang Sunan Kali Jaga. Sunan Kali Jaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang, beliau tidak pernah meminta upah atas pertunjukkan yang ditampilkannya, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita tersebut disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam.

Islam Jawa sangat kental era Wali Songo menyebarkan agama dengan media wayang. Para wali tampaknya banyak memanfaatkan wayang sebagai media dakwah yang menarik dan eksis. Wayang dimainkan oleh seorang dalang, yang berasal dari bahasa Arab dalla artinya yang menunjukan ke jalan yang benar. Dalang adalah simbol seorang ulama yang bertugas menaburkan kebenaran kepada umat. Dengan memanfaatkan seni wayang para ulama tampak lebih mampu merebut hati umat.

3.Wayang sebagai Sarana Hiburan

Wayang merupakan sebuah pertunjukan kesenian dan dapat menjadi alat hiburan serta dapat menjadi bahan pemikiran yang mendalam, tergantung kepada daya kemampuan dan minat masing-masing orang untuk memanfaatkannya. Wayang juga dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat dari anak kecil sampai dewasa.

4.Wayang sebagai Sarana Pendidikan

Wayang tidak hanya merupakan salah satu sumber pencarian nilai-nilai yang amat diperlukan bagi kelangsungan hidup bangsa, tetapi wayang juga merupakan salah satu wahana atau alat pendidikan karakter yang baik, dipandang dari karakternya wayang bisa sebagai. Pertama, pertunjukan wayang itu sendiri merupakan alat pendidikan watak yang menawarkan metode pendidikan yang menarik, karena wayang menggambarkan ajaran dan nilai-nilainya tidak secara dogmatis sebagai suatu indoktrinasi, tetapi ia menawarkan ajaran dan nilai-nilai itu. Kedua, materi watak pendidikan yang ada dalam wayang berupa lakon-lakon, tokoh-tokoh dan ajaran serta nilai-nilainya, dapat digunakan bagi pendidikan watak dengan metode lain seperti, pendidikan Agama, PKN dan lain-lain.

5.Wayang sebagai Sarana Kebudayaan

Wayang merupakan salah satu hasil dari peninggalan kebudayaan yang mempunyai kelangsungan hidup khususnya di masyarakat Jawa, Sunda dan Bali. Sebetulnya cerita-cerita yang disajikan dalam pergelaran wayang bersumber dari Mahabarata dan Ramayana dari India, namun tetap diserap sebagai kebudayaan Indonesia. Wayang juga merupakan suatu produk budaya manusia yang di dalamnya terkandung seni estesis. Wayang berfungsi sebagai tontonan dan tuntunan kehidupan. Sedangkan pengertian Jawa yang dimaksud adalah pulau yang terbentang di antara kepulauan Nusantara, yang konon banyak menghasilkan jewawet (padi-padian).

Berdasarkan sejarahnya, Punakawan atau juga disebut Panakawan lahir di bumi Indonesia. Sedangkan tokoh-tokoh Panakawan yang menjadi topik bahasan pada penulisan ini berfokus pada wayang purwa (Jawa). Tokoh Panakawan yang terdiri atas Semar, Cepot, Dawala dan Gareng dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam, karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasehat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebajikan. Istilah Panakawan berasal dari kata pana yang bermakna "paham", dan kawan yang bermakna "teman". Maksudnya ialah, para Panakawan tidak hanya sekadar abdi atau pengikut biasa, namun mereka juga memahami apa yang sedang menimpa majikan mereka. Bahkan seringkali mereka bertindak sebagai penasihat majikan mereka tersebut. Hal yang paling khas dari keberadaan Panakawan adalah sebagai kelompok penebar humor di tengah-tengah jalinan cerita. Tingkah laku dan ucapan mereka hampir selalu mengundang tawa penonton. Selain sebagai penghibur dan penasihat, adakalanya mereka juga bertindak sebagai penolong majikan mereka di kala menderita kesulitan. Dalam percakapan antara para Panakawan tidak jarang bahasa dan istilah yang mereka pergunakan adalah istilah modern yang tidak sesuai dengan zamannya. Namun hal itu seolah sudah menjadi hal yang biasa dan tidak dipermasalahkan. Dalam wayang golek Sunda mengenal 4 tokoh Panakawan, yaitu:

1.    Semar Badranaya

Semar Badranaya merupakan ayah dari Astrajingga (Cepot), Dawala, dan Gareng. Semar memiliki seorang istri yaitu Dewi Suti Ragen yang berasal dari Kerajaan Sekarmumbe. Semar Badranaya sebenarnya adalah seorang dewa yang bernama Batara Ismaya, Semar merupakan anak dari Sanghyang Tunggal. Semar juga merupakan penasihat dan pengasuh bagi Pandawa bersama Batara Kresna.

Nilai etika atau kepribadian tokoh Semar Badranaya di atas dapat diindikasikan sebagai berikut. Pertama, adalah moralitas, hal ini dibuktikan dari salah satu babad “Arjuna Rarabi” yaitu ketika Bima dan Gatotkaca mendatangi kediaman Semar yang saat itu sedang berkumpul dengan kedua anaknya yaitu Astrajingga (Cepot) dan Dawala. Sesudah anak-anaknya meninggalkan tempat, Semar kembali ke tempatnya kemudian membersihkan diri terus masuk ke dalam ruangan, berdoa memohon supaya diberikan jalan keluar dalam menghadapi permasalahan yang tengah dialami Pandawa. Kedua berprilaku menolong (altruism), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Karena Rupakanca dan Kancarupa tidak bisa mati walau sudah berdarah-darah oleh Bima, Semar berpikir bahwa bujukan Drupadi dapat membuka rahasianya walau dengan berpura-pura mau jadi permaisuri ketika dipinta oleh Rupakanca, kalau rahasia sudah terbongkar dibalik kesaktian Rupakanca dan Kancarupa selanjutnya tugas Bima untuk menyelesaikannya. Begitu yang dipikirkan Semar. (Hamzah, 2006:98)”. Ketiga kemampuan bekerja sama (cooperation). Keempat kerendahan hati (modesty), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Semar tetap merendah dibalik pengetahuannya yang banyak (Hamzah, 2006:70).” Kelima simpatik (sympathy), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Semoga saja, kita berdoa bersama, biar saya dan anak-anak yang akan berangkat ke Sendang Panguripan” (Hamzah, 2006:70).

Semar memiliki rupa wajah yang berwarna putih, badan berwarna hitam dan berbentuk gemuk, mimik wajah yang tersenyum tetapi mata terlihat sedih, memiliki payudara seperti wanita tetapi berjenis kelamin pria, rambut yang sebut ‘kuncung’ seperti anak kecil tetapi berwarna putih seperti uban seperti orang tua.

Dari perwujudan Semar tersebut adalah pahit manis kehidupan di dunia yang dialami oleh pria maupun wanita, anak-anak maupun dewasa dan tersenyum atau bersedih adalah hal yang pasti dialami oleh manusia. Begitulah seperti yang diucapkan oleh dalang kondang asal Jawa Barat (alm) Asep Sunandar Sunarya dalam cerita atau babad Bambang Suryaningrat.

2.    Astrajingga (Cepot)

Astrajingga atau yang lebih dikenal sebagai Cepot, merupakan anak pertama dari Semar Badranaya. Astrajingga atau Cepot adalah Bagong jika dalam wayang kulit, hanya saja perbedaannya Cepot merupakan anak pertama sedangkan Bagong anak terakhir atau bungsu. Astrajingga merupakan pengasuh para Pandawa sama dengan Semar ayahnya, Astrajingga memiliki sifat yang humoris dan bijaksana, meskipun tidak sebijaksana Semar.

Lakonnya biasa dikeluarkan oleh dalang di tengah kisah. Selalu menemani para ksatria, terutama Arjuna, ksatria Madukara yang jadi majikannya. Cepot digunakan dalang untuk menyampaikan pesan-pesan bebas bagi pemirsa dan penonton baik itu nasihat, kritik maupun petuah dan sindiran yang tentu saja disampaikan sambil guyon.

Dalam dunia pewayangan, khususnya dalam kesenian wayang golek si Cepot mempunyai wajah yang merah dengan gigi bawahnya yang besar dan menonjol ke atas. Warna wajahnya yang merah ditafsirkan kitab wayang sebagai cerminan karakter yang buruk. Si Cepot ini mempunyai ciri khas suka ngabodor (bercanda). Dia ini tak pandang bulu dalam bercanda. Siapa saja bisa menjadi bahan candaannya, mulai dari para ksatria maha sakti, raja, sampai para dewa di langit.

Sosok si Cepot memang tampak sekali terlihat jelas tanda yang melekat pada dirinya sebagai ciri ke-khasan akan tokoh wayang warna merah yang terdapat di bagian muka dan tangan. Warna merupakan suatu tanda komunikasi yang disampaikan dari beberapa lakon wayang, lebih khususnya pada wayang golek si Cepot yang sangat jelas seluruh tubuh dan mukanya berwarna merah, warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda.

3.    Dawala

Dawala adalah anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Sangat setia menemani kakaknya Cepot ke mana pun pergi. Dawala yang digambarkan memiliki hidung mancung, muka bersih, sabar, setia, dan penurut. tetapi kurang cerdas dan kurang begitu trampil. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, tokoh ini di kenal dengan nama Petruk. Biasanya dikeluarkan bareng dengan Astrajingga alias Cepot dan Semar sebagai teman humor pada lakon goro-goro atau lakon humor dalam pagelaran wayang.

Dari uraian di atas indikasi kepribadian Dawala sebagai berikut. Pertama, kemampuan asertif (assertiveness), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Dawala berpikir, sekuat apa pun yang menghadapi orang yang hidup lagi setelah mati seperti Rajamala tentu lama-lama akan keteter dan kalah begitu kira-kira yang akan dialami Bilawa atau Bima (Hamzah, 2006:58)”. Kedua, tingkat aktivitas (activity-level), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Para penjaga kemah lengah, mereka bisa dipancing Dawala. Mereka tidak menaruh curiga bahwa minuman yang ditawarkan sudah dicampur dengan racikan khusus. Rasanya yang enak dan segar serta harum membuat para penjaga ketagihan. Tidak selang berapa lama para penjaga pingsan (Hamzah, 2006:55)”. Ketiga, Mencari kesenangan (excitement seeking), hal ini dibuktikan dari kutipan berikut. “Dawala mengelilingi kemah dari dalam dan menyisirnya, kemudian ia menemukan barang yang mencurigakan. Begitu dibuka ternyata dibalik barang itu ada sebuah terowongan sebesar sumur (Hamzah, 2006;55)”.

4.    Gareng

Gareng adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Gareng biasanya selalu di rumah saja membantu ibu Sutiragen melakukan berbagai pekerjaan rumah. Nilai etika atau kepribadian dari tokoh Gareng ini adalah, pertama peduli terhadap orang lain, hal ini dibuktikan dari kesehariannya yang membantu warga Kampung Tumaritis yang membutuhkan bantuan. Kedua, rajin dan tekun dalam bekerja, hal ini sering disebutkan pada saat Pandawa mendatangi kediaman Semar dan menanyakan Gareng, Semar selalu menjawab bahwa Gareng sedang sibuk bekerja atau berjualan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan.

 

Daftar Pustaka

Bagus, Lorens. 2005. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Bertens, K. 2007. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Hadiwijono, Harun. 1980. Sejarah Filsafat Barat 2. Yogyakarta: Kanisius.

Hamersma, Harry. 1992. Pintu Masuk ke Dunia Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Hamzah, Amir. 1994. Nilai-nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Sinar Harapan.

Harsrinuksmo, Bambang dkk, 1999. Ensiklopedi Wayang Indonesia. Jakarta: Senawangi.

Kattsoff, Louis. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.

Mertodedono, A. 1995. Sejarah Wayang: Asal-usul, Jenis dan Cirinya. Semarang: Dahara Prize.

Mulyono, S. 1999. Wayang dan Filsafat Nusantara. Jakarta: PT. Gunung Agung.

Nalan, A. S. 2016. Asep Sunandar Sunarya: Dalang of Wayang Golek Sunda (1955- 2014). Asian Theatre Journal: ATJ, 33(2), 264-269.

Paeni, Muklis. 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Rapar, J. H. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Slamet Sutrisno, dkk. 2009. Filsafat Wayang. Jakarta: Yayasan Senawangi.

Soepandi, Atik. 1985. Wayang Golek Gaya Priangan. Bandung: Bina Cipta.

Soetarno. 2005. Pertunjukan Wayang & Makna Simbolisme. Surakarta: STSI Press

Solichin. 2011. Falsafah Wayang, Intagible Heritage of Humanity. Jakarta: Yayasan Senawangi.

Suryajana, Jajang. 2002. Wayang Golek Sunda Kajian Estetika Rupa Tokoh. Bandung: Kiblat Buku Utama.

Widyawati. 2009. Ensiklopedi Wayang. Yogyakarta: Pura Pustaka.



Posting Komentar

0 Komentar