Penyangkalan Evolusioner dari Realisme Moral

Syamsul Arifin
 

Penyangkalan Evolusioner dari Realisme Moral 

Mari simak pembahasannya sebagai berikut:

Pengantar

Argumen penyangkalan evolusioner bertujuan untuk meruntuhkan status epistemik keyakinan moral kita dengan mengacu pada asal-usul evolusionernya (Vavova, 2014). Kekhawatiran atas argumen ini menurut Katia Vavova adalah jika evolusi membentuk keyakinan moral kita, tetapi evolusi bertujuan untuk kelangsungan hidup dan kebugaran, bukan kebenaran moral, maka skeptisisme moral akan mengikuti. Argumen semacam itu biasanya menargetkan realisme moral yang menyatakan bahwa kebenaran moral tidak tergantung pada keyakinan moral kita; apa yang baik itu baik terlepas dari apakah kita menganggapnya demikian atau tidak.

Realisme Moral

Realisme moral adalah keyakinan bahwa ada nilai-nilai moral objektif, dan bahwa nilai-nilai ini tidak tergantung pada pendapat atau perasaan kita tentangnya. Banyak orang menganggap keyakinan ini menarik karena tampaknya menawarkan cara untuk mendasarkan keyakinan moral kita pada sesuatu yang objektif dan tidak berubah.

Namun, ada sejumlah masalah dengan realisme moral. Pertama, tidak jelas bagaimana kita bisa tahu tentang nilai-nilai moral objektif ini. Kedua, bahkan jika kita dapat mengetahui tentang mereka, tidak jelas apakah mereka akan memiliki jenis otoritas yang kita ingin mereka miliki. Akhirnya, dan yang paling penting, kepercayaan pada nilai-nilai moral objektif tidak sesuai dengan pandangan ilmiah tentang dunia.

Pandangan ilmiah tentang dunia adalah bahwa alam merupakan dunia fisik yang beroperasi sesuai dengan hukum yang dipahami oleh sains. Pada pandangan ini, tidak ada ruang untuk apa pun seperti nilai-nilai moral objektif, karena dalam pandangan ilmiah, segala sesuatu yang ada adalah bagian dari alam dan diatur oleh hukum alam.

Penyangkalan Evolusioner

Penyangkalan evolusioner dari realisme moral adalah pandangan bahwa kepercayaan kita pada nilai-nilai moral objektif tidak dapat dibenarkan karena itu adalah produk evolusi. Pembantah evolusioner berpendapat bahwa, sama seperti keyakinan kita pada nilai-nilai fisik objektif tidak dapat dibenarkan karena itu adalah produk evolusi, demikian pula keyakinan kita pada nilai-nilai moral objektif juga tidak dapat dibenarkan.

Ada beberapa sanggahan evolusioner yang berbeda dari realisme moral, tetapi semuanya pada umumnya bermuara pada gagasan bahwa perasaan moral kita tidak objektif, melainkan merupakan produk evolusi. Ini menjelaskan bahwa apa yang kita anggap "benar" dan "salah" sebenarnya hanyalah cerminan dari apa yang telah membantu nenek moyang kita bertahan dan berkembang biak.

Satu argumen umum adalah bahwa pengertian moral kita tidak lebih dari produk sampingan dari proses evolusioner lain yang lebih mendasar. Misalnya, kita mungkin telah mengembangkan rasa empati dan altruisme karena membantu nenek moyang kita bertahan hidup dan berkembang biak. Namun, ini tidak berarti bahwa moralitas itu nyata secara objektif.

Argumen lain adalah bahwa rasa moral kita adalah produk pembelajaran sosial. Kita belajar dari orang tua dan rekan-rekan kita apa yang dianggap benar dan salah. Namun, sekali lagi, ini tidak berarti bahwa moralitas itu nyata secara objektif.

Pada akhirnya, sanggahan evolusioner dari realisme moral mengklaim bahwa moralitas kita adalah produk evolusi, dan bukan sesuatu yang nyata secara objektif.

Dalam realisme moral, penjelasan evolusi dari keyakinan dan praktik etis kita menyatakan bahwa hal tersebut telah diasah oleh seleksi alam selama ribuan tahun untuk menghasilkan sistem moral pada keseimbangan yang adaptif. Sistem moral ini membantu kita bertahan hidup dan berkembang biak. Namun, tidak berarti bahwa keyakinan dan praktik moral kita selalu adaptif, hanya saja, rata-rata, memang seperti itu.

Bukti utama untuk klaim ini adalah fakta bahwa banyak dari keyakinan dan praktik etis kita dimiliki oleh semua budaya manusia. Misalnya, sebagian besar budaya memiliki beberapa bentuk larangan membunuh, mencuri, dan berbohong. Jika keyakinan dan praktik ini tidak memiliki nilai adaptif, mereka tidak akan tersebar luas.

Ada beberapa kritik terhadap pandangan ini. Salah satunya adalah bahwa itu tidak menjelaskan mengapa ada begitu banyak variasi dalam keyakinan dan praktik moral lintas budaya. Jika seleksi alam telah mengasah sistem etika kita menjadi adaptif, lalu mengapa ada begitu banyak sistem yang berbeda?

Kritik lain adalah bahwa catatan evolusi dari keyakinan dan praktik etis kita tidak memberi kita alasan untuk berpikir bahwa keyakinan dan praktik ini adalah benar. Lagi pula, hanya karena sesuatu itu adaptif tidak berarti itu benar. Misalnya, adalah adaptif untuk percaya pada dewa yang akan menghukum kita jika kita tidak berperilaku dengan cara tertentu. Tetapi ini tidak berarti bahwa dewa-dewa seperti itu benar-benar ada.

Terlepas dari kritik ini, catatan evolusi dari keyakinan dan praktik etis kita tetap populer.


DAFTAR PUSTAKA

 
Sauer, H. (2018) Debunking Arguments in Ethics. Cambridge: CUP.

Shafer-Landau, R. (2003) Moral Realism: A Defence. Oxford: OUP.

Singer, P. (2005) ‘Ethics and Intuitions’, Journal of Ethics, 9/3–4: 331–52.

Sterelny, K. and Fraser, B. (2017) ‘Evolution and Moral Realism’, The British Journal for the Philosophy of Science, 68/4: 981–1006.

Vavova, K. (2015). Evolutionary Debunking of Moral Realism. Philosophy Compass, 10(2), 104-116.

 

Posting Komentar

0 Komentar