Keadaan Friksi Russia-Ukraina, Apakah Ajang Propaganda Blok Barat?

Alva Rizky

-

Keadaan Friksi Russia-Ukraina, Apakah Ajang Propaganda Blok Barat?

Keadaan politik global sedang hangat terkait isu perseteruan antara Russia dan Ukraina yang kian memanas seperti yang disampaikan media media. Perang dapat menyelinap dan terjadi secara seketika di negara-negara layaknya pencuri di malam hari. Beginilah keadaan yang terjadi di wilayah eropa timur. Baru baru ini, Russia mengirimkan militernya dan kabarnya siap menginvasi Ukraina dalam waktu dekat. Apa yang menjadi tujuan ultima dari Russia terhadap Ukraina? Yang dimana akan friksi kedua ini juga melibatkan Amerika Serikat yang kita tahu merupakan rival dari Russia yang berlangsung sejak Perang Dingin dan mengindikasi saat ini masih ada kecurigaan antar sesama rivalitas tersebut.

Pertegangan yang terjadi mendapati dua alasan mengapa ini dapat terjadi. Pertama, sebab ukraina merupakan negara yang strategis yang diapit oleh Uni Eropa dan Russia, dan yang kedua masalah sengketa territorial. Kemudian ini menjadi dasar untuk memahami bagaimana konflik ini berakhir hingga ada penekanan dari kedua negara tersebut. Adapun masalah ini mencuat campur tangan pihak lain memperkeruh keadaan yang dimana Russia menginginkan Ukraina sebagai tetap berada dalam sphere in fluence-nya (Candradewi, 2014)

Hubungan Russia dan Ukraina

Hubungan Russia dan Ukraina sejatinya begitu membaik sebelum mengalami friksi akibat demonstrasi. Hal ini terjadi karena geokultur ukraina terbelah dalam dua faksi politik. Penduduk yang menempati Ukraina bagian Timur dan Selatan berbatasan langsung dengan Rusia yang menjadikan Ukraina memiliki latar belakang sejarah serta bahasa yang secara kultural lekat dengan Rusia sebab Ukraina pernah menjadi bagian Uni Soviet saat sebelum runtuh, dan Desember 1991 Ukraina referendum. Adanya dua kubu tersebut memunculkan bentuk demonstran yang terjadi di Ukraina yang terjadi pada kepemimpinan Viktor Yanukovych. Memang secara terang-terangan ideologi dan arah politik yang cenderung mengarah Pro-Russia terlihat dalam kepemimpin Yanukovych dalam hubungan dengan Rusia yang telah menjadi landasan kebijakan luar negeri Ukraina (Sautin, 2010).

Sehingga pecah, akibat dari demonstran menginginkan Ukraina berafiliasi terhadap Uni Eropa hingga menuntut Ukraina berintegrasi dengan Uni Eropa dan keputusan negara membatalkan perjanjian asosiasi saat itu dianggap sebagai perampasan mimpi rakyat Ukraina untuk bergabung menjadi warga Uni Eropa (Gunadi, 2013). Akibat dari itu kepemimpinan Yanukovych lengser buah hasil dari revolusi di Ukraina tahun 2014 yang menggulingkan pemerintahan pro-Rusia. Pada sisi lainnya, kemudian memicu kemarahan warga Crimea yang mayoritas pro Rusia, sehingga ada isu untuk memisahkan diri dari Ukraina untuk bergabung dengan Rusia. Bentrokan antara kelompok pro Rusia melawan militer Ukraina akhirnya gak bisa dihindarkan di Crimea yang bentrokan ini disokong oleh Russia.  Kemudian berlanjut pada isu territorial pun menjadi perpanjangan konflik hingga memanas antara Russia dan ukraina sejak 2014 akan peristiwa aneksasi semenanjung Crimea, bagian selatan ukraina yang keseluruhannya hampir dikelilingi laut Hitam dan laut Azov. 

Kilas balik sebagai perihal fundamental mengapa hubungan Russia dan Ukraina tidak begitu harmonis, mengingat awalnya Ukraina merupakan negara yang netral hingga desas desus yang beredar bahwa Ukraina memiliki siasat kuat untuk bergabung sebagai keanggotaan NATO, karena telah melihat ancaman yang nyata dari Rusia akibat dari tercaploknya Crimea. Kabar yang beredar terkait tajuk keteguhan Ukraina untuk menjadi bagian NATO pun membuat Russia mengirimkan pasukannya sebagai bentuk respon dalam menjaga perbatasan wilayahnya, hal ini bisa dilihat sebab dapat mengancam keamanan negara Russia, itu yang menjadi letak kekhawatiran negara beruang merah tersebut. Inilah yang kerap digembar gemborkan media politik hingga politik global melihat situasi saat ini, apakah Russia akan menginvasi Ukraina?

Baru baru ini Joe biden presiden Amerika Serikat menghubungi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky yang membahas akan penyerangan yang memungkinkan terjadi dari Vladimir Putin untuk menginvasi Ukraina (Chance and Herb, 2022). Namun ini disangkal oleh Zelensky bahwasannya Biden tidak perlu campur tangan urusan Ukraina. Mengenai isu ini Zelensky menegaskan bahwa Ukraina lebih paham akan masalah ini dan mengenai relasinya dengan Russia. Serta presiden Ukraina tersebut juga mengatakan bahwa para pemimpin dunia lainnya terlalu melebih-lebihkan kemungkinan perang yang terjadi antara negaranya dengan Rusia, karena retorika terkait ancaman perang ini mencuat bentuk "kepanikan" dan akibatnya akan mengganggu stabilitas ekonomi Kyiv (Chance, Cotovio and Berlinger, 2022).

Jika kembali berkaca terdahap situasi Ukraina yang menyangkal untuk pemimpin dunia untuk campur tangan, disini AS mencoba masuk ikut campur dengan berdialog dan memersuasi Ukraina, bahwa Russia akan menginvasi dalam waktu dekat. Bentuk menyebarkan propaganda terhadap Ukraina, apakah ini hanya permainan media media barat untuk memojokkan Russia? Semacam ajang propaganda Amerika terhadap Russia yang dimana hal ini disadur dalam media yang terus menggoreng isu ini yang kemudian memanipulasi opini masyarakat melalui media yang beredar. Frasa yang sering didengarkan “Siapapun yang mengontrol media akan mengontrol massa” untuk itu “Opini Publik” lantas berposisi sebagai satu kekuatan yang harus dikelola yang dimana menurut Noam Chomsky Ketika sentimen masyarakat telah tumbuh melalui media dengan kekuatannya menjangkau ke seluruh dunia untuk mencapai tujuan yang diinginkan para elit local, apresiasi terhadap segala yang berbau peperangan harus ditumbuhkan (Chomsy, 2021).  Propaganda dalam media massa sebagai informasi di media hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas suatu realitas yang ada di masyarakat dan tentu merupakan olahan dari meja-meja redaksi. Dibalik itu terdapat kekurangan dalam setiap sudut pandang dan rekonstruksi peristiwa akan fakta sebenarnya ke dalam fakta media.

Sejatinya kita disini harus bijak melihat kondisi, terlebih kritis terhadap media, ketika kita melihat sudut pandang lainnya gelagat semacam itu menampakkan AS dan NATO yang sepertinya sangat meyakinkan dan berambisi kuat untuk menarik Ukraina untuk menapak ke pro-Barat, melalui propaganda seperti mengadu domba terhadap isu yang terjadi antara Russia dan Ukraina itu bisa terlihat bagaimana media terus mempropagandakan invasi Russia ke Ukraina. Sedangkan bagi Ukraina sendiri yang dikatakan sebagai negara yang tetap netral berdasarkan pada posisinya yang paling aman dan cocok dengan kepentingan nasional Ukraina sebab dikatakan lagi Ukraina sebagai Buffer State atau Kawasan zona penyangga yang tidak terikat pada kubu blok antara CSTO dan NATO jauh lebih strategis dan menguntungkan. Karena melihat isu ini lebih mengarah pada perang saudara yang terjadi di Ukraina Barat melawan Timur, hanya saja Russia mendukung bagi fraksi pro-Russia ditambah ambisi kuat barat tersebut membuat Putin mengerahkan militernya sebagai bentuk pertahanan jika Ukraina bergabung pada NATO. Karena Ukraina sebagai Buffer State yang tidak terikat pada kubu inilah mengapa Russia tidak ingin Ukraina kehilangan arah dan memilih ke sisi barat.


REFERENSI


Candradewi, R. (2014) ‘What Russia Wants for Ukraine is to consider its interest’, JurnalPhobia, 1(1), pp. 1–12.

Chance, M., Cotovio, V. and Berlinger, J. (2022) Ukraine’s President Zelensky urges world leaders to tone down rhetoric on threat of war with Russia - CNN, CNN. Available at: https://edition.cnn.com/2022/01/28/europe/ukraine-russia-zelensky-biden-intl/index.html (Accessed: 17 February 2022).

Chance, M. and Herb, J. (2022) Ukrainian official tells CNN Biden’s call with Ukrainian President ‘did not go well’ but White House disputes account - CNNPolitics, CNN Politics. Available at: https://edition.cnn.com/2022/01/27/politics/biden-zelensky-call/index.html (Accessed: 16 February 2022).

Chomsy, N. (2021) Politik Kuasa Media. Cetakan 5. Edited by A. Manysur and A. Bagus K. Yogyakarta: Jalan Baru Books.

Gunadi, M. C. (2013) ‘Upaya Ukraina Menghadapi Rusia Atas Aneksasi Semenanjung Crimea Tahun 2014’, Journal of Chemical Information and Modeling, 53(9), pp. 1689–1699.
 

Posting Komentar

0 Komentar