Fenomena Sifat Narsisme - Cinta Diri yang Berlebihan di Era Kontemporer

Amorfrieden
 

Fenomena Sifat Narsisme: Cinta Diri yang Berlebihan di Era Kontemporer

Persoalan mengenai manusia memang topik yang rumit, manusia yang eksis didunia juga membawa satu pola kepribadian yang metafisik itu dan meliputi diri bersama eksistensinya. Pola kepribadian tersebut cenderung dapat mengarah pada sifat yang melekat. Sejatinya sifat pada manusia memang topik yang rumit, untuk itu sifat pada manusia menjadi hal yang renyah untuk dibicarakan, apalagi di masa kontemporer ini. 

I

Mengenai sifat manusia sedikit banyaknya filsuf dahulu telah menggali pikirannya mengenai topik sifat manusia, seperti halnya Thomas Hobbes, yang percaya bahwa manusia secara alamiah bersifat egois; kemudian masyarakat menyeimbangkan perangai yang kasar ini. disisi lain Jean Jackques Rousseau menggagas manusia itu terlahir baik; namun masyarakat yang membuat manusia itu rusak. Dilain sisi filsuf eksistensialis Simone De Beauvoir meragukan itu, ia beranggapan bahwa sifat alamiah manusia itu tidak ada; sifat manusia itu tidak memiliki sifat alamiah. Sigmund Freud perintis Psikoanalisis beranggapan sejatinya manusia itu memiliki pikiran, perasaan, keinginan, dan ingatan yang tidak disadari oleh manusia (alam bawah sadar), ini menjadi pendorong segala tingkah laku manusia dalam pola baik dan jahat pada manusia. Ketika gagasan-gagasan itu hadir, banyak para pemikir yang mengartikulasi pola prilaku sifat manusia ini ke ranah yang lebih spesifik dan terus berkembang hingga sekarang.

Menariknya di kehidupan modern ini, fenomena narsisme menjadi hal yang cukup melekat pada diri seorang yang dapat membentuk sifat manusia. Narsis menjadi keadaan yang dipandang tidak buruk jika itu dapat memberikan manfaat yang baik, misalnya Itu dapat mewakili cinta diri dan kepercayaan diri yang sehat yang didasarkan pada pencapaian nyata. Namun, akan menjadi buruk jika prilaku itu menjadi kebiasaan dan berlebihan yang justru menjadi gangguan. Saat ini narsisistik ini seolah menjadi epidemi masyarakat modern. Mengenai Narsisisme atau narsisme merupakan kondisi seseorang yang mengalami perasaan cinta terhadap diri sendiri yang begitu berlebihan. Adapun seseorang yang mengalami gejala dari gangguan kepribadian ini disebut sebagai seorang yang narsisis (narcissist). Cakupan narsisme lebih luas, tidak hanya dipandang dari segi gaya hidup dan finansial, tetapi juga kekuasaan, prestasi, fisik, dan penampilan. Individu yang kecenderungan narsisistik lebih tertarik dengan hal yang hanya menyangkut dengan kesenangan pribadi. Hal ini juga memberikan pengaruh cukup besar dalam pergaulan sehari-hari dan biasanya tidak memiliki kepedulian terhadap perasaan orang lain (Engkus, Hikmat, and Saminnurahmat 2017).

II

Etimologi Narsisisme merujuk pada mitos Yunani kuno Narcissus. Dikisahkan Narcissus merupakan sosok yang memiliki keindahan raga dan ketampanan yang menawan membuat orang orang mengaguminya, namun ia menolak untuk dikagumi. Namun, berpikir dia layak untuk dicintai. Kemudian karena ketampanannya itu, ia terobsesi dan begitu sibuk mengagumi dirinya. Akibat penolakannya itu, Dewi pembalas dendam, Nemessis, menghukum Narcissus dengan menjawab doa orang-orang yang tersakiti akibat sikapnya. Hukuman itu berupa kecintaan kepada diri sendiri yang tak terbalas—seperti halnya sering ia lakukan pada orang lain. Saking cinta terhadap dirinya sendiri ia tidak dapat beranjak melihat pantulan dirinya dari sumber air tanpa sengaja menjulurkan tangannya hingga tenggelam (Kring et al. 2013). Kemudian, nama Narcissus hidup sebagai bunga di mana ia berubah dan sebagai sinonim untuk mereka yang terobsesi dengan penampilan mereka sendiri.

Mitos tersebut menjadi asumsi awal dari sikap narsistik, yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat sebagai hal yang buruk ketika manusia begitu berlebihan mencintai dirinya sendiri. Konsep Narsisme dipopulerkan oleh psikoanalis Sigmund Freud melalui karyanya tentang ego dan hubungannya dengan dunia luar; karya ini menjadi titik awal bagi banyak orang lain yang mengembangkan teori tentang narsisme. Freud menjelaskan bahwasannya Narsisme identik sebagai kepribadian yang memiliki rasa ingin mengejar pengakuan dari orang lain terhadap kekaguman dan kesombongan egoistik akan ciri pribadinya. Berdasar dari gagasan Sigmund Freud ia juga menggambarkan sikap narsisme sejatinya merupakan tahap yang normal dalam perkembangan anak, tetapi dianggap sebagai gangguan ketika terjadi atau setelah pubertas

III

Di era kontemporer saat ini, masyarakat kerap tidak bisa melepaskan diri dari gawainya. Mengingat kondisi yang serba digital mendesak masyarakat untuk mengikuti tren yang dibawa oleh arus globalisasi, bagi mereka yang tidak mengikuti perkembangan akan dianggap sebagai individu yang arkais. Media social sebagai bentuk manifestasi dari era digital menjadi suatu komponen yang sering dimanfaatkan sebagai sarana koneksi (informasi komunikasi) semakin mengubah cara manusia dalam menghabiskan waktu serta berkomunikasi. yang justru menjadi panggung kepalsuan dystopia, menimbulkan banyaknya ketakutan mereka di dunia maya, dimana penelitian dari cross sectional menunjukkan kecanduan media social terkait dengan prilaku yang membuat manusia rentan untuk menjadi narsistik (Malik and Khan 2015).

Narsisme yang sebelumnya dijelaskan Freud menjadi masalah Ketika melewati fase puberitas, hal yang diyakini freud karena setiap anak akan melalui fase yang akan dilaluinya sebelum menyalurkan cinta mereka dari diri mereka sendiri kepada significant person, sehingga anak terfiksasi pada fase narsistik. Narsistik yang merupakan reaksi asumsi untuk menghadapi masalah-masalah self-worth yang tidak realistik sebagai hasil dari penurutan dan evaluasi yang berlebihan dari orang-orang yang signifikan (Freud 2012). Orang yang cenderung narsistik akan menganggap mereka lebih superior dibandingkan dengan orang lain dan tidak dapat memberikan empatinya serta menghargai orang lain, karena narsistik meyakini bahwa mereka lebih unggul.  Rasa percaya diri yang begitu tinggi narsistik ini memiliki sisi yang buruk sebab personalitas ini begitu rentan tersinggung terhadap kritikan. Adapun seorang yang narsistik ini sejatinya memaparkan ciri khas yang memandang dirinya rendah, sehingga bukannya mengakui luka psikis, yang justru malah menutupi dirinya dengan topeng untuk mengungguli diri. 

IV

Permasalahan mengenai narsisitik ini cenderung semakin menjadi jadi ketika hadirnya media social ini. Adapun media social seakan menjadi cermin yang mengrefleksikan masalah yang manusia itu hadapi. Hidup kian menjadi lahan trasaksional demi mendapat like dan komen serta perhatian yang lebih, karena itu bentuk kesuksesan dari Narsisistik. Kita dapat melihat Sebagian begitu percaya diri pada social media entah menampilkan kecantikan/ketampanannya, kekayaannya, daya intelektualnya di media social yang justru begitu berlebihan seolah-olah mereka superior dibandingkan orang lain. Narsisis sebenarnya kompleks tak hanya pride semacam itu. Ketika seseorang yang begitu sudah akut dan parah cakupannya sudah menjadi masalah sikologis. Implikasinya empati mereka tertutup dengan memandang rendah orang lain untuk membuat dirinya telihat hebat, hingga sulit menerima pandangan serta masukan yang ada. Inilah narsistik yang dimaksud menjadi suatu penyakit mental akan kecintaan diri yang begitu berlebihan.
Ketika seseorang telah masuk dalam narsisis akut yang memuncak menguasai diri secara total dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders menggambarkan gangguan kepribadian narsistik sebagai gangguan mental yang disebut Narcissistic Personality Disorder (NPD). Adapun NPD ini memiliki tanda dan gejala yang diantaranya:

1. Rasa mementingkan diri sendiri yang berlebihan (berharap untuk diakui sebagai superior; marah ketika tidak diakui)

2. Disibukkan dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuatan, kecemerlangan, keindahan, atau cinta yang ideal


3. Percaya bahwa dia spesial dan unik (hanya dapat dipahami oleh, atau harus diasosiasikan dengan, orang atau institusi spesial atau berstatus tinggi lainnya).

4. Membutuhkan kekaguman yang berlebihan (sangat membutuhkan perhatian)


5. Rasa berhak yang sangat kuat, (harapan yang kuat akan perlakuan yang disukai dan khusus; menuntut kepatuhan dengan harapannya)

6. Eksploitatif terhadap orang lain, (memanfaatkan atau menggunakan orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri — bahkan akan mengeksploitasi orang yang seharusnya dihargai) 

7. Empati yang kurang, (tidak mau mengenali atau mengidentifikasi dengan perasaan dan kebutuhan orang lain yang bertentangan dengan agendanya)

8. Sering iri pada orang lain (benci terhadap pencapaian orang lain yang lebih cemerlang darinya; dan percaya bahwa orang lain iri padanya)


9. Secara teratur menunjukkan perilaku atau sikap arogan, angkuh (harus menjadi orang yang paling penting yang tahu lebih banyak dan lebih baik dari yang lain; keinginan untuk menjadi pusat perhatian)

V

Sebagai manusia kita perlu sadar baik kekurangan dan kelebihan kita sebagai manusia. Sejatinya kita manusia perlu paham akan ini yang dimana untuk mengetahui diri dan mengenal diri sendiri secara otentik. Mencintai diri sendiri itu memang perlu atau istilahnya Self love, namun jika takarannya terlalu berlebihan dan buta akan kekurangannya akan berdampak buruk terhadap diri sendiri dan orang lain.  Seperti orang yang mengalami gangguan narsistik ini, ia begitu menolak kekurangannya dan membuat ia rentan jika ia dikritisi. Adapun bagi orang yang mengidap gangguan ini tak akan ragu untuk memanipulasi orang lain untuk kepentingan pribadinya sendiri yang padahal dirinya sendiri yang bermasalah.

VI

Pribadi yang mengalami gangguan kepribadian NPD ini memerlukan penanganan baik Farmakoterapi atau psikoterapi. Serta juga melalui Meditasi yang menjadi bentuk pengobatan yang dapat memberikan efek positif pada kesehatan mental.  Bagaimanapun dengan memahami ini agar kita menjadi personalitas dalam menjalani hidup yang terarah dan tentunya menghilangkan gangguan kejiwaan agar dapat membangun hubungan baik sesama manusia dengan menyadari kekurangan maupun kelebihan yang dimiliki oleh kita untuk mengarahkan pada kebahagiaan. Menurut Psikiater Robert Waldinger dalam TED ia menjelaskan melalui penelitiannya selama 75 tahun terhadap sekelompok orang-orang, ia menjelaskan apa yang membuat manusia Bahagia dan sehat selama menjalani hidup bukan terletak pada ketenaran maupun kekayaan melainkan terletak pada hubungan yang baik akan membuat manusia lebih Bahagia dan sehat (Waldinger 2015). Perjalanan dari ketidakdewasaan menuju kedewasaan adalah semacam gerakan narsisme ke koneksi, bagaimanapun jika pribadi narsisistik ini dapat menghilangkan gangguan kejiwaan itu menuju pada hubungan yang baik terhadap orang-orang disekitarnya. Maka kehidupannya pun akan menjadi baik.

Referensi

Britannica, Editor Ensiklopedia. "Narsisis". Encyclopedia Britannica, 31 Mei. 2021, https://www.britannica.com/topic/Narcissus-Greek-mythology. Diakses pada 16 Maret 2022.

Engkus, Engkus, Hikmat Hikmat, and Karso Saminnurahmat. 2017. “Perilaku Narsis Pada Media Sosial Di Kalangan Remaja Dan Upaya Penanggulangannya.” Jurnal Penelitian Komunikasi 20 (2): 121–34. https://doi.org/10.20422/jpk.v20i2.220.

Freud, Sigmund. 2012. A general introduction to psychoanalysis. Ware: Wordsworth.

Kring, Ann M., Sheri L. Johnson, Gerald C. Davison, and John M. Neale. 2013. Abnormal Psychology. 12th ed. Hoboken, New Jersey: John Wiley and Sons.

Malik, Sadia, and Maheen Khan. 2015. “Impact of Facebook Addiction on Narcissistic Behavior and Self-Esteem among Students.” Journal of the Pakistan Medical Association 65 (3).

Waldinger, Robert. 2015. “What Makes a Good Life? Lessons from the Longest Study on Happiness.” TED. https://www.ted.com/talks/robert_waldinger_what_makes_a_good_life_lessons_from_the_longest_study_on_happiness?language=en.



Posting Komentar

0 Komentar