Gangguan Kepribadian Antisosial pada Kasus-kasus Pelaku Kriminal

Nabila S Andini
 


Gangguan kepribadian antisosial merupakan gangguan kepribadian akibat perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan norma atau aturan, baik di lingkup sosial masyarakat maupun di lingkup hukum. Individu dengan gangguan antisosial berpotensi besar untuk mencelakai, menyakiti bahkan membunuh orang lain. Individu yang menderita gangguan ini sering disebut sebagai psikopat atau sosiopat. Individu dengan gangguan antisosial memiliki ciri khas, yaitu kemampuan yang rendah dalam menilai sesuatu. Individu sangat acuh terhadap orang lain, tidak peduli dengan risiko atau hukuman akibat perilakunya karena penderita gangguan antisosial memang tidak memiliki perasaan simpati dan empati, sehingga penderita tidak dapat merasakan emosi yang dirasakan orang lain. Penderita gangguan antisosial lebih fokus pada kebutuhan dan kepuasan diri sendiri.

Berdasarkan data dari jurnal yang diterbitkan oleh Brazilian Journal of Psychiatry tidak semua orang yang menderita gangguan kepribadian adalah pelaku kriminal, khususnya psikopat, karena tidak lebih dari sepertiga penderita gangguan antisosial yang sesuai dengan kriteria psikopat dan berpotensi menjadi psikopat. Pelaku kriminal dengan gangguan antisosial seringkali melakukan kejahatan yang awalnya rendah sampai kejahatan tingkat tinggi, seperti menipu, memperkosa, menyiksa, dan membunuh. Korbannya pun tidak hanya satu, tetapi puluhan. Pelaku kriminal antisosial juga seringkali bertindak kasar, manipulatif dan playing victim.

Dalam beberapa kasus tindak kejahatan yang dilakukan oleh pelaku kriminal dengan gangguan antisosial biasanya memiliki pola yang sama ketika menipu, menyiksa, atau membunuh para korbannya. Jika Anda sering menonton film dokumenter atau membaca biografi dari para pelaku kriminal, khususnya tentang serial killer, biasanya mereka mengatakan bahwa tindakan mereka tersebut terinspirasi dari pelaku kriminal yang sedang atau sudah terkenal saat itu, terinspirasi dari film/series, atau adanya motif lain, seperti dendam. Di bawah ini terdapat beberapa kasus-kasus pelaku kriminal dengan diagnosis gangguan antisosial, yaitu:

1) Andi Lala (34) dari Sumatra Utara adalah tersangka utama kasus pembunuhan satu keluarga pada 9 April 2017. Di Juli 2015 Andi juga pernah melakukan pembunuh berencana. Alasan Andi melakukan ini, karena dendam kepada korban yang telah berhubungan intim dengan istrinya. Andi didiagnosis menderita gangguan kepribadian antisosial, karena menurut Dr Netti Damayanti, SPsi, MPsi selaku psikolog mengatakan bahwa Andi memang tidak memiliki rasa empati terhadap orang lain, Andi bertindak (membunuh) dengan berani, dan tindakannya tidak dapat dikendalikan. Ia juga mengatakan, Andi tidak merasa kesal dan menyesal walaupun tindakannya sudah melanggar hukum. Andi dinyatakan bukan psikopat karena tidak semua psikopat menderita gangguan mental (BeritaSatu.com, n.d.).

2) NF berusia 15 tahun ditetapkan sebagai tersangka kasus pembunuhan pada anak 5 tahun di Sawah Besar, Jakarta Pusat. NF juga sudah merencanakan perbuatannya ini, setelah membunuh NF menyimpan jasad korban di dalam lemari, kemudian menyerahkan diri dan mengakui bahwa ia telah membunuh. Alasan NF membunuh, karena terinspirasi dari film pembunuhan yang ia tonton. Menurut Gianti Gunawan M.Psi., pakar psikologi dari Universitas Kristen Maranatha mengatakan bahwa berdasarkan hasil pengamatan dan bukti laporan polisi, maka NF masuk dalam kategori psikopat (Kata Psikolog, Remaja Pembunuh Bocah Memiliki Gangguan Kepribadian Psikopat, n.d.).

3) Danny Rolling ditetapkan sebagai tersangka atas seluruh tuduhan pembunuhan. Rolling membunuh dan memutilasi para korban-korbannya. Rolling mengatakan alasan ia membunuh karena ingin terkenal seperti pembunuh berantai Ted Bundy. Rolling didiagnosis menderita gangguan kepribadian antisosial, gangguan kepribadian ambang, dan parafilia. Danny Rolling dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 20 April 1994 (Indonesia, n.d.).

Berdasarkan kasus-kasus di atas, maka dapat disimpulkan bahwa seseorang berperilaku menyimpang akibat adanya dendam atau perasaan marah yang berlebihan dan terinspirasi dari perilaku yang mereka lihat. Di bawah ini terdapat gejala-gejala yang dialami penderita gangguan kepribadian antisosial, yaitu:

a) Tidak peduli (abai) dan sering melanggar hak milik orang lain.

b) Tidak punya rasa empati.

c) Tidak mawas diri.

d) Adanya perasaan superior.

e) Manipulatif, dan kadang playing victim.

Warning: Pemberian label gangguan kepribadian dapat diberikan jika gejala di atas memang sudah muncul sebelum usia 15 tahun.

Pada kasus 1 sampai 3 setiap tersangka memiliki semua tanda dan gejala gangguan kepribadian antisosial. Pada kasus 1 gejala yang dialami AL juga, meliputi perasaan mudah tersinggung, egois, dan sering melakukan kekerasan kepada orang lain. Sedangkan, di kasus 2 dan 3, masing-masing tersangka didiagnosis psikopat, karena sering berperilaku kasar dan menipu orang lain untuk kepuasan diri sendiri. Kedua tersangka tersebut juga cukup pintar dalam menutupi jejaknya, sehingga polisi seringkali terkecoh. Kesamaan dari kedua tersangka, yaitu mereka sama-sama terinspirasi. Pada kasus 2 NF terinspirasi dari film yang ia tonton, sedangkan pada kasus 3 Danny Rolling terinspirasi dari psikopat Ted Bundy.

Penyebab gangguan kepribadian antisosial bukan karena skizofrenia, halusinasi, dll, tetapi karena adanya faktor dari gen. Jadi, misalkan orangtua yang kriminal memiliki anak, maka anak memiliki kemungkinan lebih besar untuk melakukan kejahatan daripada anak yang dilahirkan dari orangtua yang bukan kriminal. Faktor selanjutnya, yaitu pola asuh, dan kelainan pada fungsi atau struktur otak. Pelaku kejahatan seperti psikopat memiliki struktur otak yang berbeda dengan pelaku kejahatan biasa. Selain itu, terdapat faktor eksternal yang juga berpengaruh, seperti:

a) Trauma masa kecil, misalkan sering disiksa oleh keluarganya (khususnya orangtua) atau dirundung teman sebaya.

b) Berasal dari keluarga yang tidak harmonis.

c) Memiliki riwayat gangguan perilaku di masa lalu, sehingga rentan untuk kambuh dan berkembang menjadi gangguan yang lebih parah.

Obat dan metode terapi untuk menyembuhkan gangguan kepribadian antisosial sampai saat ini belum ditemukan. Perawatan yang biasa dilakukan hanya untuk mencegah agar perilaku individu tidak menyimpang terlalu jauh dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Individu dengan gangguan kepribadian antisosial tetap dapat hidup berdampingan dengan masyarakat, jika individu telah mampu mengendalikan emosi-emosi negatif dalam dirinya.

 

Daftar Pustaka

BeritaSatu.com. (n.d.). Pelaku Pembantaian di Medan Memiliki Kepribadian Antisosial. beritasatu.com. Retrieved March 22, 2022, from https://www.beritasatu.com/nasional/426992/pelaku-pembantaian-di-medan-memiliki-kepribadian-antisosial

Indonesia, C. N. N. (n.d.). Kisah Nyata di Balik Teror Pembunuh Scream—Halaman 2. hiburan. Retrieved March 22, 2022, from https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20220116025450-220-747160/kisah-nyata-di-balik-teror-pembunuh-scream

Kata Psikolog, Remaja Pembunuh Bocah Memiliki Gangguan Kepribadian Psikopat. (n.d.). kumparan. Retrieved March 22, 2022, from https://kumparan.com/temali/kata-psikolog-remaja-pembunuh-bocah-memiliki-gangguan-kepribadian-psikopat-1ssM7SPcTFj

Posting Komentar

0 Komentar