Relasi Kosmologi antara Teori Evolusi dan Agama mengenai Awal Mula Alam Semesta

Big Smoke
 


Kata kosmologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti bumi, yang tersusun menurut peraturan dan bukan yang kacau tanpa aturan. Kosmos juga berarti alam semesta. Alam semesta berarti jagat raya, kemudian jadi cabang ilmu kosmologi yang memandang alam semesta sebagai suatu keseluruhan integral. Sedangkan kosmos secara literal berarti tatanan dan keindahan. Alam semesta atau disebut bumi adalah suatu planet di dalam tata surya yang mengitari matahari.

Pembahasan mengenai penciptaan alam di dalam kajian para filsuf, biasanya dimasukkan ke dalam pembahasan mengenai kosmologi, sedangkan kosmologi termasuk bagian dari filsafat alam yang di dalamnya membicarakan inti alam, isi alam dan hubungannya satu sama lain dan dengan keberadaanya dengan yang ada mutlak. Dahulu ilmu yang mempelajari tentang asal-usul alam semesta disebut kosmogoni, sekarang oleh para ahli astronomi modern, kosmogoni yang mempelajari asal-usul dan evolusi alam semesta telah diperluas menjadi kosmologi.

Alam semesta adalah fakta yang tak terhindarkan dalam hidup kita. Kita hidup di alam semesta baik secara mikrokosmos (jagat kecil) dan makrokosmos (jagat raya). Kita merangkai sejarah hidup kita dengan segala problematikanya di alam semesta. Keberadaan alam semesta ini menarik perhatian bagi para pemikir Yunani sejak awal.

Para filsuf Yunani menggunakan arkhê sebagai prinsip untuk menjelaskan asal-usul alam semesta. Thales (624–546 SM) berpendapat bahwa air sebagai prinsip asal-usul alam semesta. Alasannya adalah bahwa air memenuhi sebagian besar alam sekitar. Selanjutnya, kehidupan mengandaikan air karena tanpa air tidak ada kehidupan. Anaximenes (586–526 SM) berpendapat bahwa prinsip segala sesuatu ada pada udara. Anaximenes beralasan segala yang berkaitan dengan kehidupan membutuhkan udara, karena tanpa udara semua manusia akan mati. Phytagoras (570–495 SM) mengemukakan bahwa prinsip segala sesuatu berasal dari angka-angka karena angka dapat membentuk garis, ruang dan volume sebagai prinsip pertama dalam alam semesta.

Secara khusus, Anaximandros (610–540 SM) adalah filsuf yang memikirkan tentang asal-usul alam semesta dengan prinsip terakhir sebagai to apeiron atau “yang tak terbatas”. Aperion bersifat ilahi, abadi, tak berubah dan meliputi alam semesta. Karena suatu perceraian maka dilepaskan dari apeiron itu unsur-unsur berlawanan seperti contohnya ‘yang panas’ dan ‘yang dingin’, ‘yang kering’ dan ‘yang basah’. Kejadian dunia berlangsung ketika yang panas membalut yang dingin, sehingga bersama-sama merupakan bola raksasa. Karena kepanasan, maka dalam yang dingin itu air mulai melepaskan diri dari tanah dan mulai berkembang juga udara atau kabut. Karena tekanan yang disebabkan oleh udara itu, bola meletus menjadi sejumlah lingkaran. Tiap-tiap lingkaran terdiri dari api yang dilingkupi dengan udara. Karena setiap lingkaran mempunyai lubang, api yang terkandung di dalamnya dapat dilihat. Itulah matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Setelah berkembangnya ilmu pengetahuan, asal-usul alam semesta ini diketahui mempunyai dua sumber penjelasan. Pertama, jika alam semesta ada, asal-usulnya berasal dari Sang Pencipta. Alam semesta diciptakan oleh Sang Pencipta. Pada bagian ini, alam semesta tidak dapat tidak berada karena diciptakan oleh Tuhan. Kedua, jika alam semesta ini ada, keberadaannya merupakan hasil proses alam. Proses ini berlangsung dalam waktu yang lama. Berdasarkan teleskop Hubble, alam semesta lahir berkisar 13-15 milyar tahun yang lalu, sementara bumi baru terbentuk sekitar 3-4 juta tahun yang lalu. Dalam evolusi alam semesta, Sang Pencipta tidak dibicarakan sebagai penyebab dari alam semesta, yang dibicarakan dalam evolusi adalah proses berlangsungnya alam semesta sebagai proses alam. Dua pendekatan ini menjelaskan tentang asal-usul alam semesta yang berbeda. Pendekatan penciptaan diidentikkan dengan keyakinan iman dan pendekatan evolusi disamakan dengan pengetahuan ilmiah. Seringkali kedua pendekatan ini saling bertentangan.

Sejak jaman dahulu orang ingin menerangkan alam semesta. Penyelidikan antariksa sudah dikerjakan oleh bangsa Yunani kuno, dan penyelidikan itu berkembang terus hingga sekarang dengan menggunakan peralatan dan pengetahuan yang tinggi. 

Perkembangan Pandangan Mengenai Alam Semesta 

Pada waktu dahulu, orang Yunani kuno mengira bahwa bumi dan langit sangat dekat, dan bumi adalah sangat kecil bila dibandingkan dengan langit. Mereka mempercayai mitologi yang beranggapan bahwa bumi itu diatur oleh para dewa, diantaranya, Dewa Zeus sebagai Dewa Langit dan Guntur, serta Dewa Helius sebagai Dewa Matahari.

Kepercayaan tersebut semakin lama, semakin tidak lagi diyakini oleh masyarakat, karena pengamatan yang lebih teliti oleh orang-orang di jamannya. Seperti Pythagoras yang hidup 2500 tahun yang lalu menyatakan bahwa bumi seperti bola yang tanpa ujung dan pangkal. Sedangkan Aristoteles seorang ahli filsafat yang hidup 200 tahun setelah Pythagoras mencoba menerangkan tentang peredaran Bulan, Venus, Mars dan planet lain. Aristoteles berpendapat bahwa di atas bumi terdapat delapan langit yang terdiri dari Kristal Kaca tembus cahaya. Langit bulan yang beredar pada Bumi dianggap terikat pada bumi merupakan langit yang terdekat. Kemudian di atasnya terdapat langit Merkurius dan Venus, di atasnya lagi terdapat langit Matahari, langit Mars, langit Yupiter dan langit Saturnus.

Sedangkan bintang-bintang terdapat pada langit kedelapan. Ptolomeus seorang ahli filsafat Yunani lain yang hidup 100 tahun setelah Aristoteles menyusun teori baru mengenai kosmos dan ia mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa benda-benda langit itu semua beredar mengelilingi Bumi pada ruang yang kosong.

Pandangan yang lebih maju dari filsuf Yunani Copernicus lahir di Torum, Polandia (1473-1543) setelah bertahun-tahun menyelidiki bintang dan planet-planet, ia menarik kesimpulan bahwa hanya bulan saja yang benar mengelilingi bumi, sedangkan planet lain tidak, tetapi semuanya beredar mengelilingi matahari. Galileo Galilei yang pada jamanya telah ditemukan teleskop sebagai alat yang sangat penting bagi pengamatan benda-benda langit. Pada tanggal 7 januari 1610 dengan menggunakan teleskop menemukan bahwa Jupiter bukan hanya sebuah titik cahaya kecil, melainkan berupa sebuah bola besar dengan empat buah pengiringnya. Ia menemukan jalur hitam di permukaan bulan dan diduga laut atau samudra. Dia juga membenarkan teori Copernicus, karena dia menyetujui Copernicus, maka dia di hukum penjara oleh pengadilan gereja sampai meninggal.

Ada dua golongan besar materi yang memperkirakan terjadinya tata surya.

1.Tata surya berasal dari matahari yang sebagian materinya terlepas dan menjadi planet-planet serta satelit. Teori yang mendukung teori ini adalah: Pertama, teori pasang surut, yang dikemukakan oleh jeans. Teori ini menyatakan bahwa ada bintang besar yang mendekati matahari, sehingga timbul efek pasang pada kabut matahari, akibat daya tarik bintang besar tadi, sebagian massa matahari tertarik dan lepas dari matahari yang selanjutnya mendingin dan terbentuk planet-planet dan satelit-satelit tata surya. Kedua, teori bintang kembar, yang menyatakan bahwa matahari merupakan bintang kembar, kemudian satu bintang meledak dan pecahanya mendingin membentuk planet dan satelit, karena semua terpengaruh oleh gravitasi matahari, maka planet itu beredar mengelilingi Matahari. 

2.Tata surya berasal dari kabut asal atau nebula, yaitu oleh Imanuel Kant dan Pierre Simon De Laplace yang menyatakan bahwa di angkasa berisi berbagai macam gas. Gas-gas yang massanya besar menarik gas-gas yang ada di sekelilingnya, bagian kecil itu menyatukan dirinya, sehingga membentuk kabut yang besar yang selanjutnya menjadi matahari. Akibat tumbukan antara bola-bola gas tadi menyebabkan kabut itu menjadi panas dan berputar. Kabut itu selanjutnya mendingin dan mengakibatkan perputaranya menjadi lebih cepat. Kabut itu juga mengalami pemampatan dan penyusutan yang menambah cepatnya perputaran kabut itu, di tempat perputaran yang paling cepat, yaitu di bagian khatulistiwa bola kabut itu terlontarkan bola-bola gas yang kemudian mendingin dan membentuk planet.  

Teori Evolusi

Mengenai terjadinya alam semesta, George Ganow berpendapat pada saat-saat permulaan dari timbulnya alam semesta ini adalah bahwa semua massa (benda-benda) yang akan membentuk alam semesta seperti galaksi-galaksi, semua nebula, gas-gas, matahari, bintang-bintang, seluruh planet dan satelit serta zat-zat kosmos lainya, berkumpul menjadi satu di bawah tekanan yang maha tinggi dan sangat kuat, sehingga menyebabkannya pecah dan runtuh berantakan (collapse). Hal ini yang disebut meledak dengan berkepingkeping. Kepingan-kepingan itu akhirnya menjadi bintang-bintang, matahari, planet-planet, satelit-satelit, galaksi, nebula dan benda-benda semesta lainnya bertaburan memenuhi ruang kosong.

Dengan anggapan dasar bahwa hanya satu macam hukum alam yang berlaku untuk seluruh alam semesta, maka tata surya sebagai satu bagian alam semesta dalam skala kecil dianggap mewakili alam semesta yang maha besar, untuk mengajukan hipotesis-hipotesis yang sejalan dengan terjadinya alam semesta. Dari kosmologi yang telah maju dikemukakan teori tentang terjadinya alam semesta, di mana teori-teori itu dapat dikelompokan manjadi tiga teori utama. Sejak tahun 1940-an alam semesta telah diterangkan dengan tiga teori. Ketiganya telah sepakat mengenai satu azas yang sama, bahwa alam semesta itu memuai. Ketiga teori itu adalah:

Pertama Teori Big Bang. Gagasan Big Bang didasarkan pada alam semesta yang berasal dari keadaan panas dan padat yang mengalami ledakan dahsyat dan mengembang. Semua galaksi dialam semesta akan memuai dan menjauhi pusat ledakan. Pada teori Big Bang, alam semesta berasal dari ledakan sebuah konsentrasi materi tunggal beberapa tahun lalu yang secara terus menerus berekspansi, sehingga pada keadaan yang lebih dingin. Beberapa helium yang ditemui dalam bintang-bintang sekarang kemungkinan berasal dari reaksi nuklir dalam bola api kosmik yang padat.

Kedua, Teori keadaan tetap (steady state theory). Meskipun teori Big Bang (dentuman besar) merupakan hipotesis yang paling mungkin dalam mendiskusikan asal-usul alam semesta, tetapi teori lain juga telah diusulkan, misalnya teori keadaan tetap, yang diusulkan pada tahun 1948 oleh Hermann Bondi, T Gold, dan Fred Hoyle dari Universitas Cambridge, menurut teori ini, alam semesta tidak ada awalnya dan tidak akan berakhir. Alam semesta akan terlihat seperti sekarang. Materi secara terus menerus datang berbentuk atom-atom hidrogen dalam angkasa yang membentuk galaksi baru dan mengganti galaksi lama yang menjauhi kita dalam ekspansinya.

Berdasarkan asumsi tersebut Bondi dan Gold mengaggap segala sesuatu di alam semesta ini kelihatanya tetap sama meskipun galaksigalaksi saling menjauh satu dengan yang lain. Hal itu diduga karena materi di alam semesta dapat terbentuk terus menerus dalam ruang kosong dengan kecepatan yang cukup untuk mengganti materi yang berpindah. Pendapat ini ditunjang oleh kenyataan, bahwa tiap-tiap galaksi terbentuk (lahir), tumbuh, menjadi tua dan akhirnya mati pada saat bintang-bintang yang mendukung galaksi itu berevolusi mencapai keadaan bajang putih atau disebut juga katai putih. Dengan terbentuknya materi-materi baru, maka menurut teori ini. Alam semesta tak terhingga besarnya dan tak terhingga tuanya, atau dengan kata lain tanpa awal dan tanpa akhir.

Ketiga, Teori Osilasi (Oscillating Theory). Teori osilasi menduga bahwa alam semesta tidak ada awal dan tidak ada akhirnya. Dalam model osilasi dikemukakan bahwa sekarang alam semesta tidak constant, melainkan berekspansi yang dimulai dengan dentuman besar (Big Bang), kemudian beberapa waktu yang akan datang gravitasi mengatasi efek ekspansi ini, sehingga alam semesta akan mulai mengempis (collapse) akhirnya mencapai titik koalis (gabungan) asal, tepatnya temperatur dan tekanan yang tinggi akan memecahkan semua materi ke dalam partikel-partikel fundamental (dasar), sehingga terjadi dentuman besar baru dan ekspansi mulai lagi.

Untuk dapat menerima model-model kosmologi yang telah dikemukakan oleh para ahli, para astronomi terus melakukan pengujian terhadap model-model tadi, atau berusaha memberikan penjelasan yang lebih mudah diterima oleh akal pikiran manusia. Hal itu disebabkan bahwa pembuktian model-model kosmologi tidak dapat dinantikan sampai terjadi perubahan pada masa mendatang yang relatif lama.

Kosmologi Agama

Masalah alam berkaitan dengan tempat (ruang) di mana manusia berada. Ruang dalam hal ini mempunyai dua makna, yaitu ruang dalam arti ekologis yang berarti lingkungan dan ruang dalam arti kosmologis, yaitu alam semesta. Berkaitan dengan alam semesta ini tidak hanya menyangkut bumi dan beberapa planet lainnya, bagaimana proses penciptaan, tetapi juga menyangkut pola hubungan antara alam semesta dan manusia.


• Kosmologi Buddha

Ajaran Budha dirintis dan dikembangkan oleh Sidharta Gautama. Ajaran Budha yang telah berkembang lebih dari dua ribu limaratus tahun yang lalu telah berkembang ke seluruh dunia dalam spektrum yang sangat luas. Ajaran yang bersifat homocentric dan wordly oriented ini memungkinkan dapat diterima oleh masyarakat dari berbagai wilayah, bahkan sampai ke tempat yang jauh dari sumbernya. Dalam perjalanan panjang ini, Budhisme telah berkembang, beradaptasi dan mendapatkan pengaruh dari ajaran spiritualistik, agama, filsafat atau budaya di tempat baru. Inti ajaran Budhisme yang berasal dari Sutra Teratai, merupakan sumber utama pikiran Sang Budha sesudah kematiannya.

Manusia dan alam semesta mempunyai hubungan yang sangat erat. Alam semesta dan manusia adalah satu. Dalam hal ini adanya alam semesta tidak hanya untuk menunjang kehidupan manusia atau alam semesta ada untuk mengabdi kepada manusia. Ini karena manusia bukan ada di luar bagian alam semesta, namun ia adalah satu kesatuan dengan alam semesta. Jadi gambaran tentang alam semesta bisa diderivasikan dari gambaran tentang manusia atau sebaliknya.

Berkaitan dengan adanya dunia, Budhisme mengajarkan adanya suatu pokok permulaan yang saling bergantungan. Adanya sesuatu yang terdapat di dunia ini disebabkan oleh sesuatu yang saling terkait sehingga sulit sekali diketahui sebab sesungguhnya yang saling mengikat, maka dengan sendirinya sulit diketahui sesungghnya apa yang menyebabkan dunia ini. Lebih jauh diungkapkan bahwa apa yang ada di dunia ini tidak mungkin disebabkan oleh hal-hal lain di luar dunia ini. Sesuatu yang ada di dunia ini disebabkan oleh apa yang di dalam dunia sendiri. Secara implisit ini berarti bahwa terjadinya dunia ini berlangsung secara mekanis. Makna mekanis disini bukan berarti dunia ini mempunyai pengertian fisik semata-mata.

Ada sebuah istilah dalam ajaran Buddha mengenai alam semesta yaitu, kata Ichinen secara umum berarti sesuatu yang sangat kecil (mikrokosmos), dan istilah kata Sanzen dapat menunjang kepada banyak aspek yang berlainan yang dapat diambil oleh hidup semesta, ialah totalitas dari semua fenomena, sehingga dapat menggambarkan makrokosmos. Tetapi mengenai hal yang berkaitan dengan asal-usul alam semesta Budhisme tidak memberikan jawaban yang jelas. Hal ini tentunya bukan berarti Budhisme tidak menghiraukan masalah ini.


• Kosmologi Islam 

Salah satu perkara penting yang banyak disebut dalam Kitab Suci Al-Qur’an adalah persoalan yang membahas tentang alam semesta. Ayat-ayat yang menyangkut alam semesta dan fenomenanya disebut ayat kawniyyah. Ayat-ayat kawniyyah banyak dalam Al-Qur’an dan hal ini menunjukkan betapa pentingnya persoalan ini untuk diperhatikan oleh umat Islam. Dalam Al-Qur’an tidak ditemukan keterangan ayat secara rinci dan tegas yang menjelaskan bagaimana proses penciptaan alam beserta isinya. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika terjadi perbedaan dan keragaman dalam memahaminya. Namun disepakati, dalam memahami proses penciptaan alam bahwa Allah adalah Khaliq (Pencipta) dan alam merupakan mahkluk (ciptaan).

Dalam memformulasikan asal usul atau kejadian kosmos atau alam semesta, umat Islam terpecah ke dalam dua kelompok; kelompok pertama berpendapat bahwa Allah menjadikan alam semesta (kosmos) dari ketiadaan secara langsung (min al-adam ila al-wujud). Sementara kelompok kedua berpandangan bahwa Allah menjadikan alam semesta (kosmos) dari ada secara tidak langsung (min al-ijad ila al-wujud). Kelompok pertama didendangkan oleh teolog al-Asy‘ariyyah yang bercorak tradisionalis. Sistem teologi yang mereka pegangi ialah daya akal lemah, kehendak mutlak Tuhan, dan cenderung berpaham jabariyyah dan kebiasaan alam yang dapat berubah-ubah atau tidak dapat diduga. Sedangkan kelompok kedua disuarakan oleh teolog Mu‘tazilah yang bercorak rasionalis. Sistem teologi yang mereka pegang ialah daya akal kuat, otonomi manusia (dalam arti manusia bebas mengembangkan dan menggunakan daya pemberian Tuhan padanya atau keadilan Tuhan) cenderung berpaham Qadariyyah dan sunnatullah atau hukum alam adalah ciptaan Allah yang bersifat tetap.

Kaum al-Asy‘ariyyah yang tradisionalis berpendapat bahwa alam semesta adalah hadist baharu. Alam, menurut mereka, tidak dijadikan dari asyya, a yan, jawahir, wa a’rad (sesuatu, hakikat, jawhar dan a’rad), tetapi Allah menjadikannya dari nihil menjadi ada (al-ijad min al-adam atau creatio ex nihilo) sifat ini dikedepankan oleh aliran ini dalam rangka menganter kritikan teolog Mu‘tazilah yang berprinsip bahwa penciptaan dari ketiadaan menimbulkan perubahan pada zat Allah.

Sebaliknya teolog Mu‘tazilah yang rasionalis berpendapat bahwa alam semesta dijadikan Allah dari sesuatu yang telah ada (al-maddah al-ula) yang mereka sebut dengan mad’um, yang dimaksud dengan mad’um ialah: syay’ dzat wa ‘ayn (sesuatu, zat dan hakikat). Bahkan ada yang mengatakan, alam ma’dum hanya saja belum mempunyai al-wujud seperti alam empiris. Implikasi dari penciptaan secara langsung dari tiada, menurut teolog rasionalis ini, menjadikan zat Allah sebagai sasaran perubahan, karena hal ini mengandung pengertian adanya hubungan langsung antara Allah Yang Maha Esa dan Maha Sempurna dengan alam yang beragam dan serba kekurangan. Hal ini, menurut mereka, merusak citra tauhid.


• Kosmologi Kristen

Sebagai agama semit (samawi), pandangan Kristen tentang ajaran penciptaan alam tak jauh berbeda dengan Islam. Dalam Bible (al-Kitab) dinyatakan bahwa penciptaan alam ini juga terjadi melalui beberapa fase. Di hari pertama Allah menciptakan dari kegelapan menuju terang. Injil berkata; Berfirmanlah Allah; “jadilah terang.”Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama”.

Di hari kedua Allah menciptakan langit. Berfirmanlah Allah; “jadilah cakrawala ditengah segala air untuk memisahkan air dari air’. Maka Allah menjadikan cakrawala dan ia memisahkan air yang ada dibawah cakrawala itu dari air yang ada diatasnya. Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah dari kedua.

Pada hari ketiga Allah menciptakan daratan, tanah dan tanaman. Berfirmanlah Allah; “Hendaklah segala air yang dibawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.’ Dan jadilah demikian. Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamainya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Berfirmanlah Allah; “hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuhtumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang mengaslkan buah yang berbiji, segala jenis buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan dibumi”. Dan jadilah demikian. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuhtumbuhan yang berbiji dan segala sjenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga”.

Pada hari keempat Allah menciptakan benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Sedangkan dihari kelima Allah menciptakan makhluq hidup yang berada dalam air, segala sejis burung, segala jenis makhluk hidup yang bergerak. Pada hari pamungkas hari keenam Allah menciptakan binatang liar, segala jenis ternak dan akhirnya menciptakan manusia, supaya manusia berkuasa atas ikan-ikan dilaut dan burung di udara, ternak dan seluruh isi bumi.

Pandangan Kristen terhadap penciptaan, dikombinasikan dengan perasaan pribadi yesus terhadap kepedulian Tuhan, membuat Yesus seorang penganjur yang teguh pendirian. Segala sesuatu terbuka bagi Tuhan, dijabarkan berdasarkan kehendak Tuhan. Manusia tidak dapat mengetahui rincian kehendak Tuhan tetapi, dalam iman, mereka dapat merasa yakin bahwa hal itu mengekspresikan kebaikan dan cinta Tuhan.


• Kosmologi Hindu

Berbeda dengan keyakinan di dalam agama Islam, Kristen, Yahudi yang mengajarkan bahwa alam semesta itu diciptkan Tuhan yang maha esa dari tiada menjadi ada melalui iradat dan kodratnya yang tiada terbatas, maka agama Brahma atau Hindu mengajarkan bahwa alam semesta itu adalah pancaran zat Brahma.

Di dalam Upanishads pada bagian (handogya itu disahkan setrnya bahwa terhadap svetaku yang belum dapat memahamkan hal itu, maka Rishi Uddalaka menyuruh svetaku meletakkan kepingan garam kedalam mangkok air. Pada keesokannya, Rishi Uddalaka lalu menyuruh Svetaku memeriksa kepingan. Sudah tidak ada, Rishi Udallaka menyuruh Svetaku mencicipinya dan dirasakan air tawar itu menjadi asin. Rishi Udallaka lalu menyatakan bahwa demikianlah zat Brahma itu menyerap kedalam seluruh yang ada dan itulah Atma yang merupakan proyeksi dari zat Brahman.

Berangkat dari atas maka dalam dipahami, sebenarnya Brahman berkehendak menjadi banyak dan selanjutnya kejadiannya menerus secara teratur. Namun, tampaknya pemikiran India tidak mengangaap adanya awal pertama dari alam semesta ini saat kapanpun dan juga tidak menganggap adanya tujuan akhir yang pasti. Ia bahkan mendukung pandangan bahwa alam semesta ini secara periodik mengalami penciptaan dan peleburan. Dalam siklus pencitaan dan peleburan secara periodik ini, alam semesta mengalami empat tahapan yang teratur, yaitu satya, treat, dvapara dan kaliyuga. Pada tahap akhir kaliyuga, alam semesta menjadi terlalu rusak dan harus dilebur untuk memperbaharui kembali.

Rekonsiliasi Teori Kosmologi Agama dan Teori Evolusi

Dua pendekatan tentang eksistensi alam semesta mau tidak mau merupakan dua pendekatan yang berbeda. Dalam keadaan ini, kita mau membuat rekonsiliasi antara kedua pendekatan ini. Baik dalam perbedaan maupun persamaan keduanya, kita mau membuat rekonsiliasi kosmologis di dalamnya. Ini adalah rekonsiliasi yang menyangkut pendamaian antara dua pendekatan tentang eksistensi alam semesta.

Perbedaan Dari Keduanya

Pertama-tama, kita harus mengatakan bahwa ada perbedaan teori kosmologi agama dan teori evolusi kosmos. Dari istilah yang digunakan, sudah tersirat perbedaannya yang mendasar. Teori kosmologi agama berdasarkan pengandaian tentang adanya dunia yang diciptakan. Pengandaian itu berupa aksioma sebagai pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa harus membuktikannya. Lebih jauh, teori kosmologi agama dalam kitab-kitab suci adalah refleksi iman tentang penciptaan. Iman yang merefleksikan siapa di balik ciptaan-ciptaan di alam semesta ini. Kitab suci lebih mengacu kepada buku iman. Sementara teori evolusi kosmos menjelaskan penyelidikan tentang adanya alam semesta. Sebagai teori, evolusi kosmologis mendasarkan teorinya pada penelitian ilmiah yang berdasarkan pada data-data empiris.

Perbedaan antara teori kosmologi agama dan teori evolusi kosmos menyangkut pendekatan. Kita dapat mengatakan teori kosmologi agama menggunakan pendekatan dari atas (top-down); Sementara, teori evolusi kosmos memakai pendekatan dari bawah (bottom-up). Dalam teori kosmologi agama, pendekatan dari atas terdapat pada gagasan Allah menciptakan alam semesta; Pengada tak terbatas mengadakan kenyataan yang terbatas (top-down). Sementara, teori evolusi kosmos melakukan penyelidikan pada objek-objek di alam semesta; alam semesta adalah kenyataan sekarang ini. Berdasarkan penyelidikannya, teori evolusi menyelidiki sejarah alam semesta (asal-usul, kejadian, dan keberlangsungannya).

Teori evolusi mendasarkan pada objeknya masa kini untuk mencari tahu sejarahnya. Dalam teori evolusi, ada “gerakan dari bawah” sebagai masa sekarang “menuju ke atas” sebagai masa lampau (bottom-up). Pendekatan ini tampak dalam Teori Big Bang yang menyelidiki tentang “kelahiran alam semesta”; Alam semesta lahir pada saat terjadi Ledakan Besar yang berasal dari “singuralitas-materi”. Selanjutnya pendekatan bottom up juga dapat dipahami sebagai pendekatan pada objek yang diamati masa sekarang bergerak ke masa depan. Ketika Hubble berbicara tentang ekspansi alam semesta, mereka menyatakan secara tidak langsung bahwa alam semesta bergerak menuju masa depannya. Dari waktu ke waktu, dari masa sekarang ke masa depan alam semesta sedang melakukan perluasan wilayahnya. 

Selain perbedaan pendekatan, ada perbedaan konsep waktu antara teori kosmologi agama dan teori evolusi. Untuk penciptaan alam semesta, Kitab Suci (Injil) hanya butuh 6 hari dan Teori Bing Bang memerlukan kurang-lebih 13,7 milyar tahun. Kitab Injil mengisahkan penciptaan alam semesta hanya berlangsung 6 hari. Hari ketujuh, Allah beristirahat yang dihayati sebagai Hari Sabat. Berkaitan dengan kisah penciptaan ini; Di satu pihak, orang akan mengatakan bahwa sah-sah bagi Allah menciptakan alam semesta beserta isinya berlangsung 6 hari. Alasannya jelas bahwa Allah itu Mahakuasa yang mampu melakukan apa saja sesuai dengan kekuasaannya. Di lain pihak, orang akan bertindak rasional tentang “waktu Pencipta” dan “waktu ciptaan”.

Teori evolusi alam semesta berbicara waktu kosmologis. Waktu didefinisikan sebagai “jumlah gerakan dalam kaitannya sebelum dan sesudah” (Aristoteles). Berdasarkan definisi tersebut, waktu kosmologis adalah waktu sebagai perubahan dari momen ke momen dalam kisah alam semesta. Sejauh kita berada di alam, kita berhubungan dengan waktu kosmologis, karena kosmos berarti alam yang teratur. Evolusi kosmos berarti evolusi yang berkaitan dengan alam semesta.

Menurut Stephen Hawking, waktu yang dibutuhkan evolusi alam semesta adalah 13,7 milyar tahun. Artinya, alam semesta terjadi sejak peristiwa Big Bang sampai sekarang berlangsung kurang-lebih 13,7 milyar tahun. Jika kita melihat perbedaan waktu penciptaan yang butuh 6 hari dan waktu evolusi 13,7 milyar tahun, hal ini bukan untuk dipertentangkan. Alasannya dua konsep waktu berbeda. Waktu kosmologis adalah waktu yang nyata (real time) dan waktu liturgis adalah waktu sebagai simbol (symbolic time). Waktu kosmologis mau bicara waktu yang berlangsung (proses evolusi kosmos), sementara waktu liturgis yang menyimbolkan perihal liturgi (bukan waktu yang nyata).

Selanjutnya, kedua pendekatan berbeda dalam ruang-lingkupnya. Kitab suci adalah buku iman, sementara evolusi kosmos adalah penelitan ilmiah. Karena itu, Kitab Kejadian tidak didasarkan pada penelitian ilmiah tentang proses penciptaan. Kitab suci sebagai buku iman mau menyatakan tentang Tuhan yang menciptakan dunia dengan segala isinya (the real actor of creation). Dengan demikian kitab suci tidak bicara soal proses berlangsungnya penciptaan, tetapi berbicara soal penyebab penciptaan. Jika kitab suci berbicara perihal “metafisik” yaitu “Tuhan sebagai Pencipta”, maka evolusi berbicara perihal “fisik” yaitu “alam semesta sebagai ciptaan”. Dari peristiwa ini, alam semesta terus berekspansi memperluas dirinya (the expansion of universe). Materi ini berkembang menjadi alam semesta. Berdasarkan materi unik sebagai singularitas, alam semesta adalah struktur materi yang berhakikat ruang dan waktu. Dengan ini, kita menyatakan bahwa teori evolusi kosmos membahas causa materialis sekaligus causa formalis. Causa materialis menegaskan bahwa penyebab dari bahan alam semesta adalah materi alam semesta. Sementara, causa formalis menyatakan bahwa penyebab dari bentuk alam semesta adalah wujud alam semesta itu sendiri.

Persamaan Dari Keduanya

Baik teori kosmologi agama maupun Teori Evolusi kosmos bermula dari ketiadaan. Dalam konteks ilmiah, makna ketiadaan (nothingness) ini adalah ketika pada awal mula, tidak ada apa pun. Hal ini bukanlah sungguh-sungguh ketiadaan, melainkan ketiadaan yang mempunyai potensi untuk mengada. Sebuah ketiadaan yang mempunyai kandungan energi yang tiba-tiba memancarkan eksistensinya dengan begitu cepat. Ketiadaan ini mempunyai cukup energi untuk lepas-landas yang meledak begitu hebat. Peristiwa ini seperti momen kecil yang sangat tak terbatas. Momen ini selanjutnya menjadi “terang” melintasi waktu dan ruang. Seluruh ruang dan waktu diciptakan dalam momen tersebut. Di dalamnya, energi perlahan-lahan, menjadi materi proton, neutron, dan foton. Alam semesta yang kecil ini terus berkembang menjadi bintang-bintang dan planet-planet, dan akhirnya bangsa manusia hadir di dalamnya.

Peran sains memang harus mampu menjelaskan sebab-akibat alam semesta secara positif. Artinya, teorinya tentang penciptaan alam semesta mesti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkah hasil-hasil eksperimen dan observasinya. Peran sains memang harus mampu menjelaskan sebab-akibat alam semesta secara positif. Artinya, teorinya tentang penciptaan alam semesta mesti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkah hasil-hasil eksperimen dan observasinya. Teori Big Bang cocok dengan Teori Kosmologi Agama. Stephen Hawking menyatakan bahwa kita hanya tahu apa yang terjadi setelah peristiwa Big Bang. Sebaliknya, kita tidak mengetahui apa pun yang terjadi sebelum Big Bang. Peristiwa sebelum Big Bang tidak dapat menjadi bagian sains untuk alam semesta. Karenanya, kita sebaiknya menyingkirkan peristiwa sebelum Big Bang dari sains. Bagaimanapun, peristiwa sebelum Big Bang belum memasuki ruang dan waktu dan tak bisa dijelaskan karena sains tidak mampu membuat penelitian ilmiah di dalamnya. Kita mesti mengatakan bahwa ruang dan waktu punya permulaan dalam peristiwa Big Bang (Ledakan Besar). Hawking menegaskan bahwa banyak orang tak suka gagasan bahwa waktu punya permulaan, barangkali karena terkesan melibatkan campur tangan Ilahi.

Menurut Kitab Suci, alam semesta berawal dan berakhir; alam semesta diciptakan dan akan musnah pada akhir zaman. Kemusnahan alam semesta dinyatakan baik dalam “Big Crunch” sebagai bagian dari Teori Evolusi atau “Akhir Zaman” sebagai bagian dari teori kosmologi.

Kesimpulan

Kata kosmologi berasal dari bahasa Yunani yang berarti bumi, yang tersusun menurut peraturan dan bukan yang kacau tanpa aturan. Kosmos juga berarti alam semesta. Alam semesta berarti jagat raya, kemudian jadi cabang ilmu kosmologi yang memandang alam semesta sebagai suatu keseluruhan integral. Sedangkan kosmos secara literal berarti tatanan dan keindahan. Alam semesta atau disebut bumi adalah suatu planet di dalam tata surya yang mengitari matahari. Pembahasan mengenai penciptaan alam di dalam kajian para filsuf, biasanya dimasukkan kedalam pembahasan mengenai kosmologi, sedangkan kosmologi termasuk bagian dari filsafat alam yang didalamnya membicarakan inti alam, isi alam dan hubungannya satu sama lain dan dengan keberadaanya dengan yang ada mutlak. Dahulu ilmu yang mempelajari tentang asal usul alam semesta disebut kosmogoni, sekarang oleh para ahli astronomi modern, kosmogoni yang mempelajari asal usul dan evolusi alam semesta telah diperluas menjadi kosmologi.

Mengenai terjadinya alam semesta, George Ganow berpendapat pada saat-saat permulaan dari timbulnya alam semesta ini adalah bahwa semua massa (benda-benda) yang akan membentuk alam semesta seperti galaksi-galaksi, semua nebula, gas-gas, matahari, bintang-bintang, seluruh planet dan satelit serta zat-zat kosmos lainnya, berkumpul menjadi satu di bawah tekanan yang maha tinggi dan sangat kuat, sehingga menyebabkannya pecah dan runtuh berantakan (collapse). Hal ini yang disebut meledak dengan berkeping-keping. Kepingan-kepingan itu akhirnya menjadi bintang-bintang, matahari, planet-planet, satelit-satelit, galaksi, nebula dan benda-benda semesta lainnya bertaburan memenuhi ruang kosong. Gagasan Big Bang didasarkan pada alam semesta yang berasal dari keadaan panas dan padat yang mengalami ledakan dahsyat dan mengembang. Semua galaksi di alam semesta akan memuai dan menjauhi pusat ledakan. Masalah alam berkaitan dengan tempat (ruang) di mana manusia berada. Ruang dalam hal ini mempunyai dua makna, yaitu ruang dalam arti ekologis yang berarti lingkungan dan ruang dalam arti kosmologis, yaitu alam semesta. Berkaitan dengan alam semesta ini tidak hanya menyangkut bumi dan beberapa planet lainnya, bagaimana proses penciptaan, tetapi juga menyangkut pola hubungan antara alam semesta dan manusia. Manusia dan alam semesta mempunyai hubungan yang sangat erat. Alam semesta dan manusia adalah satu. Dalam hal ini adanya alam semesta tidak hanya untuk menunjang kehidupan manusia atau alam semesta ada untuk mengabdi kepada manusia. 

Teori kosmologi agama berdasarkan pengandaian tentang adanya dunia yang diciptakan. Pengandaian itu berupa aksioma sebagai pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa harus membuktikannya. Lebih jauh, teori kosmologi agama dalam kitab-kitab suci adalah refleksi iman tentang penciptaan. Kitab suci lebih mengacu kepada buku iman. Sementara teori evolusi kosmos menjelaskan penyelidikan tentang adanya alam semesta. Sebagai teori, evolusi kosmologis mendasarkan teorinya pada penelitian ilmiah yang berdasarkan pada data-data empiris. Baik teori kosmologi agama maupun Teori Evolusi kosmos bermula dari ketiadaan. Hal ini bukanlah sungguh-sungguh ketiadaan, melainkan ketiadaan yang mempunyai potensi untuk mengada. Peran sains memang harus mampu menjelaskan sebab-akibat alam semesta secara positif. Artinya, teorinya tentang penciptaan alam semesta mesti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah berdasarkan hasil-hasil eksperimen dan observasinya. Peran sains memang harus mampu menjelaskan sebab-akibat alam semesta secara positif.

 

Daftar Pustaka

Agung Srie Gunawan, Leo. 2020. REKONSILIASI KOSMOLOGIS Antara Teorema Penciptaan dan Teori Evolusi. Jurnal Filsafat-Teologi, Volume 17. Nomor 2.


Atabik, Ahmad. 2015. KONSEP PENCIPTAAN ALAM: Studi Komparatif-Normatif antar Agama-Agama. Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan. Volume 3. Nomor 1.

Iqbal, Imam. 2014. KOSMOLOGI, SAINS, DAN TEKNOLOGI: Pergeseran Paradigmatik dan Implikasinya terhadap Studi Agama. Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam. Volume 8. Nomor 1.

Mahbub Siraj, Fuad. 2014. KOSMOLOGI DALAM TINJAUAN FILSUF ISLAM. Ilmu Ushuluddin. Volume 2. Nomor 2.

Rahayu Wilujeng, Sri. 2014. ALAM SEMESTA (LINGKUNGAN) DAN KEHIDUPAN DALAM PERSPEKTIF BUDHISME NICHIREN DAISHONIN. Jurnal Izumi, Volume 3, Nomor 1.

Posting Komentar

0 Komentar