Pelatihan Efikasi Diri Guru: Efikasi Diri Akademik & Prestasi Belajar Siswa

Nabila S Andini
 


Pada masa saat ini individu dituntut untuk selalu siap dalam menghadapi tantangan perubahan sosial. Sehingga, dibutuhkan kualitas individu yang memiliki kriteria kecerdasan, rasa percaya diri yang tinggi, mandiri, dan etos kerja yang baik (Suryanto, 2004). Hal ini agar setiap individu dapat mencapai prestasi akademik yang baik dalam pendidikan. Pada siswa, efikasi diri menjadi penting karena keyakinan atas kemampuan yang dimiliki dalam menyelesaikan masalah dan mengatasi hambatan menjadi sangat diperlukan. Oleh karena itu, individu yang memiliki efikasi diri tinggi dapat mempengaruhi keyakinannya terhadap kemampuannya dalam menggerakkan motivasi, kognitif dan tindakan yang dibutuhkan untuk memenuhi tuntutan (Bandura & Woods, 1989).

Efikasi akademik merupakan keyakinan seseorang terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik berdasarkan kesadaran diri tentang pentingnya pendidikan, nilai, dan harapan pada hasil yang dicapai. Dan, jika efikasi diri akademik disertai dengan tujuan yang spesifik, serta pemahaman tentang prestasi akademik, maka akan menjadi penentu suksesnya perilaku akademik di masa depan (Bandura dalam Alwisol, 2009). Dalam hal ini, guru juga berperan sebagai salah satu pihak yang dapat meningkatkan efikasi diri akademik siswanya. Salah satu cara meningkatkan efikasi diri akademik dengan melalui pelatihan (Sdorow, 1990). Dengan diadakannya pelatihan strategi peningkatan efikasi diri akademik pada guru, selanjutnya guru dapat menerapkannya pada siswa. Dengan demikian, diharapkan efikasi diri akademik para siswa dapat meningkat terhadap kemampuan dalam melakukan tugas, mencapai tujuan, serta dalam mengatasi hambatan-hambatan dalam meraih prestasi akademik, sehingga prestasi akademiknya dapat meningkat. 

Design penelitian eksperimen yang digunakan adalah pretest-posttest control group design. Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan siswa SD Muhammadiyah Suronatan berjumlah 180 siswa kelas 4,5 dan 6. Peneliti menentukan kelas 4A, 5A, dan 6A sebagai kelompok eksperimen, sedangkan kelas 4B, 5B, dan 6B sebagai kelompok control. Pelatihan ini disusun berdasarkan teori Bandura (1997), yaitu vicarious experience, mastery experience, physiological state, dan verbal persuasion. Metode yang digunakan adalah ceramah, penayangan film, diskusi dan permainan. Dan, modul yang digunakan juga telah di cross-cek oleh dosen dan praktisi Psikologi. 

Alat pengumpul data yang digunakan adalah Academic Self Efficacy Scale. Skala ini didasarkan pada pemahaman bahwa keyakinan siswa berada dalam dimensi academic work yang berkontribusi pada academic self-efficacy (Gafoor & Ashraf, 2006). Academic Self-Efficacy Scale berisi pernyataan sebanyak 21 item. 

Hasil analisis data menunjukkan bahwa tidak adanya perbedaan rata-rata score efikasi diri akademik antara kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Namun, subjek tetap memiliki efikasi diri akademik lebih tinggi setelah diberikan perlakuan dengan rerata sebesar 68.84 daripada sebelum diberikan perlakuan dengan rerata sebesr 67.89. Berdasarkan dari nilai rerata yang diperoleh diketahui bahwa bukan berarti perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh, tetapi hal ini disebabkan karena adanya variable extraneous yang turut serta di dalamnya. Variable extraneous adalah variabel-variabel atau faktor-faktor yang dapat mengancam validitas internal dalam eksperimen (Azwar, 2016).

Variabel extraneous pertama yang berpengaruh adalah tidak dilakukannya random pada subjek penelitian dalam menentukan kelompok eksperimen dan kelompok control. Kedua, kurangnya control pada saat pengerjaan yang dilakukan oleh siswa. Ketiga, pelatihan efikasi diri pada guru hanya dilakukan satu kali. Setelah sesi pelatihan selesai, para guru diminta untuk menerapkannya pada kegiatan belajar mengajar di kelas, tetapi realitanya guru yang mendapatkan pelatihan efikasi diri tidak menerapkan pengetahuan dan keterampilannya untuk meningkatkan efikasi diri akademik kepada para siswanya. Walaupun, berdasarkan hasil self-monitoring, guru menuliskan bahwa materi pelatihan yang diterima sudah diterapkan dengan baik. Materi pelatihan seperti ice breaking, memberikan pujian, memberikan soal yang bergradasi tingkat kesulitannya, menunjuk siswa yang mampu untuk mengerjakan di depan sampai bernyanyi bersama sudah dilakukan, tetap saja hasilnya berbeda dengan observasi dan monitoring yang dilakukan oleh asisten penelitian di kelas-kelas kelompok eksperimen. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima, karena adanya variable extraneous yang turut serta di dalamnya.

 

●●●

DATA JURNAL

Authors: Sowanya Ardi Prahara, Kondang Budiyani
Title of the Journal: InSight, Vol. 21 No. 1, Februari 2019
Publication Year: 2019

SUMBER

Sowanya Ardi Prahara, K. B. (2019). Pelatihan efikasi diri guru: efikasi diri akademik dan prestasi belajar siswa. Jurnal InSight, Vol 21 No. 4

Posting Komentar

0 Komentar