Hari Ini Saya Menulismu Kembali

Bumba


Waktu adalah elemen yang paling saya hargai,
detik-detik menjadi sangat bermakna saat kau kecup bulir tangis yang mengalir sejalan dengan perpisahan di ujung nadi.

Tidak perlu bersedih.
Selasa adalah hari yang siap dihujani rindu, dan kau tidak perlu tahu.

Malam demi malam, menjengkal dirinya dengan kemelut gelap dan kehangatan yang menyisir manis tubuh kita.

Setelah itu, saya berencana menulismu kembali dalam bait yang begitu panjang, dalam baris yang sangat rapat.

Malam berkisah mendikte jari-jemari yang saling beradu.
Sembari diikuti bisik yang syahdu dari mulutmu,
saya terayun dengan apa-apa yang sangat manis dalam dirimu.

Kau terbang bagai burung yang kehilangan arah, begitu jauh, tanpa satu pun sangkar yang dituju.

Bagimu keindahan adalah saat malam berpihak pada kita.

Bagiku lain, keindahan adalah saat hujan mengiramakan rintiknya dengan senandung yang begitu merdu, dan kau memeluk erat seperti tiada lagi kehangatan lain selain diriku.

Isak tangis perpisahan untuk memeluk rindu kembali adalah kegiatan sakral yang kita lakukan setiap kali dipaksa untuk berhenti saling menatap lagi.

Beberapa kali saya katakan, saya menyukai matamu.

Beberapa kali pula saya gumamkan, bahwa kau cantik tiada tapi.

Setiap hari adalah saat-saat pikiran saya menentukan pilihan, memikirkanmu lebih awal pada saat terbangun atau lebih akhir, ketika hendak tidur.

Namun, saya memilih keduanya. Kau adalah satu-satunya hal manis yang paling tepat yang harus membayangi pikiran saya setiap detiknya, dan saya mengagumi kenyataan tersebut, bahwa saya tidak pernah melewatkannya.



Posting Komentar

8 Komentar

  1. Thank you for being in my universe, ayangπŸ’›

    BalasHapus
  2. Publish lagi dong bang puisi-puisinya yang lain

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balas komentar ini, jika permintaan ini sangat serius. Maka akan saya suguhkan puisi untuk kau hirup.

      Hapus
  3. Apakah saya bisa dicintai seperti ini? Saya mau satu ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berikan permohonan kepada semesta, nanti ia turunkan satu butir hujan dengan kadar bahagia yang berlebihan.

      Hapus