Sekadar Kalimat Ugal-ugalan & Tertulis yang Tak Terbaca

Abbiyah Kamilah
 


Sekadar Kalimat Ugal-ugalan

Puisi-puisiku tidak pantas terbit

Bukan kataku, kata media yang takut pada olirgaki

Kuvonis ratusan hari tak boleh ke mana-mana

Aku tidak mengapa jika masuk ruangan bunuh diri

Duduk di kursi setrum, jika aku kalah
Penjarakan saja kalimatku

Seperti kematianku yang prematur, terlalu kecil untuk aku yang membela rakyat yang ditelanjangi pakai ITE


Tertulis yang Tak Terbaca

Tintaku habis, namun satu abad aku menulisnya tak pernah jadi cerita

Bagaimana kamu membawa asmaraloka ke tempat jiwaku yang hampir mati karena suaramu tidak pernah terdengar lagi?

Bagaimana nasib tokoh utama yang hampir patah tangan menulis yang nyaris gila membayangkan segaris tatapan

Jika diizinkan, maka – biarlah peristiwa tentang kita terukir

Yang menyusun aksaranya hanya memenuhi beranda layar kaca

Di papan jalanan yang aku acak-acak untuk menyelipkan kata-kata romantisasi

Aku perkenalkan senandika – untukmu, hanya kepadamu

Kini kembali berantakan – karena berdebu tak pernah kau baca

Sampai aku menjadi abu.
Dan mencintaimu, tak pernah sederhana seperti tidak menggegam yang tamat




Posting Komentar

0 Komentar