Trump: Demokrasi yang diuji

Penulis: M.R. Alva Rizky 


|Secara historis Amerika serikat telah menanamkan prinsip kebebasan individu. Hal tersebut bermula dari para pemikir seperti Thommas Hobbes, John Locke, dan Adam Smith yang membuat perpolitikan kemudian memegang konsep filsuf-filsuf terdahulu tentang kebebasan individu. Kemudian seiring berjalannya waktu kebebasan individu tersebut menjadi suatu ideologi yang sering dikenal dengan demokrasi liberal.

Selanjutnya kebebasan individu juga tertuang di dalam U.S Constitution amandement “Freedom of Religion, Speech, Press, Assembly, and Petition” dimana pemerintah tidak mengintervensi kebebasan yang dimiliki oleh individu untuk beragama, menyuarakan pendapatnya, kebebasan pers dan lain sebagainya serta hal ini merupakan hal yang fundamental terbentuknya Bill of Right. Hak-hak kebebasan tersebut meliputi kebebasan beragama, kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan pers, dan kebebasan memiliki senajata. Negara menghormati kebebasan itu, namun hal tersebut menjadi tantangan bagi Amerika Serikat untuk menyesuaikan antara kebebasan dan ketertiban.

Beberapa tahun terakhir demokrasi Amerika mengalami penurunan. Menurut Freedom House, Amerika Serikat saat ini terletak pada skor 86 dari 100 poin. Artinya, menempatkan US di bawah negara demokrasi besar lainnya seperti Prancis, Jerman, dan Inggris. Sebagai bagian dari laporan tahun ini, Freedom House menawarkan penilaian khusus tentang keadaan demokrasi di Amerika Serikat di tengah masa jabatan Presiden Donald Trump. Sementara itu Amerika melemah secara signifikan selama delapan tahun terakhir. Serangan presiden terhadap aturan hukum, jurnalisme berbasis fakta, dan prinsip serta norma demokrasi lainnya mengancam penurunan lebih lanjut (Freedom House, 2019).

Dalam era kepemimpinan presiden Donald Trump terdapat dua cara dalam melihat efek terhadap demokrasi Amerika. bahwa serangannya terhadap jurnalis, hakim federal, dan norma-norma konstitusional merusak aturan hukum dan yang lain adalah pada kebijakan kebijakannya yang banyak menimbulkan kontroversi di kalangan sipil serta tatanan politik Amerika bahkan dunia dalam beberapa dekade. Presiden ke-45 ini merupakan presiden yang banyak menuai kontroversi sebab kalangan yang mengkritik bahwa Trump sama sekali tidak menghormati demokrasi. Hal ini terlihat dari kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya, termasuk rencana membangun tembok perbatasan Amerika Serikat-Meksiko. Pada awal pencalonannya, kandidat presiden dari partai Republik tersebut melancarkan serangan atas media, dan mengancam tidak akan terima dengan hasil pemilihan umum. Ia juga menuduh saingan politiknya sebagai penjahat dan mengancam akan menjebloskannya ke penjara sehingga dari sini memungkinkan hilangnya kepercayaan masyarakat Amerika semasa pilpres 2016 dan perlahan memungkinkan demokrasi yang dipimpin oleh Trump kedepan memiliki sifat terselubung yakni otoriter.

Trump berulang kali mencela sebagian organisasi media sebagai musuh bagi rakyat Amerika. Alhasil, media-media yang dituduh sebagai penyebar berita palsu (fake news). Amandemen Pertama konstitusi AS menjamin kebebasan pers namun presiden dari Partai Republik itu berpandangan bahwa sebagian besar surat kabar serta outlet berita lain mendistorsi, menyusun atau menghilangkan fakta karena dalam kebebasan pers dimanfaatkan menjatuhkan nama baik bagi Trump dan pendukungnya demi untuk meraup keuntungan. Beberapa media ternama di AS kerap menjadi sasaran kemarahan Trump, yaitu CNN, The Washington Post, NBC dan The New York. Dalam kampanyenya Trump mengajak warga Amerika untuk memerangi fake news dan memilah berita benar dan berita palsu. 

Seperti kita ketahui dalam era kepemimpinan Trump, Ia sangat memprioritaskan keamanan negaranya. Itu sesuai dengan latar belakang partai republik yang konservatif dalam bertindak. Beberapa sisi positif dari Trump yang mulai muncul yakni pembicaraan dengan Kim Jong Un, hingga penarikan mundur pasukan AS dari Suriah. Bahkan Trump pun mengucapkan selamat ramadhan kepada umat Muslim di Amerika dan dunia. Menurut Trump  menjalin hubungan baik dengan muslim terutama dalam upaya melawan ekstrimisme juga toleransi antar agama adalah hal penting. Ha ini cukup kontradiktif dengan apa yang diutarakannya dalam kampanye beliau. 

Tidak hanya itu, Trump juga sangat anti akan adanya imigran gelap. Trump bersikeras bahwa imigran hanya bisa masuk secara legal. Namun, pihak lawannya yakni partai demokrat serta media menyanggah akan kebijakan tersebut. Mereka beranganggapan bahwa Amerika harus terbuka dan menerima siapapun yang ingin masuk ke Amerika walapun, sebagian rakyat Amerika resah dengan adanya imigran gelap. 


Referensi

Mas’oed, Mohtar. (2003) Negara,Kapital, dan Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Liu, Eric. (2017) How Donald Trump Is Reviving American Democracy [Online]. Availableat: https://www.theatlantic.com/politics/archive/2017/03/how-donald-Trump-is-reviving-our-democracy/518928 [Accessed: 8 january 2020].

Freedom House. (2019) Freedom In The World 2019 [Online]. Avaible at: https://freedomhouse.org/sites/default/files/Feb2019_FH_FITW_2019_Report_ForWeb-compressed.pdf [Accesed 8 january 2020].


Posting Komentar

0 Komentar