Senja, Cinta, Dan Cintamu Adalah Omong Kosong

IMAM FARX


Adalah senja yang membuka seluruh jalan menuju duka. Adalah senyumanmu yang pertama kali memulai seluruh luka. Tetapi, ini bukan salahmu saja. Bukan salah matamu, bukan juga salah senyumanmu. Tuhan telah menciptakanmu dengan serba memukau. Aku juga bersalah. Dan apakah kau tahu? Kesalahanku adalah tak mampu menolak jatuh cinta. Kekeliruanku adalah menduga bahwa kita digariskan hidup Bersama.  Tetapi, terlalu membosankan bila langsung kuceritakan setumpuk duka ini di awal tulisan. Terlebih dahulu mari kita ceritakan kepada pembaca bahwa kita juga pernah menyenangkan. Meski tidak berguna, setidaknya agar tulisan ini tidak terlalu memilukan. Agar dunia paham, bahwa kita pernah menyinggahi pintu surga, sebelum kau menendangku ke lumpur neraka. Mari kita ceritakan kisah senang ini! 

Aku bukan pecandu warna senja. Tiada yang menarik bagiku dari kompilasi warna langit saat hari beranjak gelap. Tapi keberadaanmu kala itu membubuhkan makna berbeda. Senja bukan lagi sekadar kompilasi warna, ia adalah alasan mengapa kau duduk di sampingku. Betapa rambutmu yang tertiup angin, tetapi perasaanku yang terbang kacau kemana-mana. Betapa kau yang menutup mata, tetapi aku yang bermimpi. Betapa senja adalah yang kau beri cinta, tetapi justru aku yang ingin menjadi penerima.

Mawar mulai menggeliat mekar di beranda. Waktu-demi waktu telah lewat, kau dan aku bukan lagi sepasang manusia yang berbicara kaku. Kita adalah bentuk nyata kegembiraan pada saat itu. Tiada lagi yang kita tutup-tutupi. Saling berbagi apapun juga.  Tugas kuliah bertubi-tubi, pekerjaan yang tiada habis, ataupun lelucon-lelucon yang tidak harus lucu. Kita bertukar semua hal yang terjadi sepanjang hari, bersama-sama mencari solusi saat ada persoalan yang musti dihadapi. Sekali lagi, tiada yang kita tutup-tutupi, Kita benar-benar terbuka waktu itu, atau hal ini hanyalah dugaanku saja?

Apapun yang terjadi, akan kuusahan sekuat diri. Masa depan kita adalah prioritas, senyumanmu adalah api yang harus kulindungi. Takkan kubiarkan senyumanmu padam oleh hal-hal yang sempat kita khawatirkan sebelumnya. Kita membutuhkan hidup yang lebih baik dari ini, maka selagi aku memiliki daya, biarkan kuperjuangkan semua mimpi-mimpi kita. 

Juga matamu yang berbinar saat melihatku beres kerja. Juga senyuman lembutmu yang membuat rontok semua penat. Secangkir kopi dan percakapan-percakapan sederhana mampu membuat kita berbahagia, berbagi keluh kesah dan tawa, lalu saling menguatkan agar kau dan aku tak menyerah begitu saja.

Kita melalui babak paling membuai. Aku semakin yakin bahwa kau adalah orang yang dikodratkan mengisi bagian sampingku. Semua persoalan mampu kita hadapi dengan tabah. Tangan kita saling erat menggenggam saat banyak hal berupaya membuat keyakinan ini goyah. Aku terjerembab semakin dalam, semakin dalam, semakin dalam, tak menjumpai dasar. 

Biarkan aku berjuang semakin keras. Dengan kondisiku saat ini, menyematkan cincin di jarimu bukanlah hal mudah. Aku akan bekerja lebih giat. Kita mungkin akan jarang bertemu, tetapi percayalah bahwa aku tak pernah kehilangan rindu. Demi kamu, aku ingin terbebas dari kondisi keuangan yang sulit. Meskipun jarang bertemu, akan kujaga agar hati ini tetap milikmu, tak perlu khawatir kalau-kalau aku pindah ke lain hati. Aku hanya memiliki satu cinta, dan itu telah kau renggut seluruhnya. Selama aku tak di sampingmu, jagalah aku yang ada di hatimu, jangan singkirkan kemanapun. Kita telah bersama sejauh ini, jauh lebih baik bila kita tetap saling memiliki. 

Aku bekerja sejak pagi hingga tengah malam hari. Jari manismu adalah alasan mengapa aku tidak merasa lelah atas semua ini.  Biarkan jarak memisahkan kita sejenak. Semua ini hanya sementara. Akan kupastikan penantianmu terbayar lunas. Aku ingin kita memakai cincin yang sama, melanjutkan kisah dengan episode baru. Kita adalah pohon yang tidak seharusnya meranggas, ujian dalam hubungan ini mari jadikan pupuk, maka jarak dan rindu akan menjadi hujan yang merimbunkan cinta.

Kau tak perlu tahu apa alasanku bekerja sekeras ini, bukan maksudku mulai bermain rahasia, aku hanya ingin semua ini menjadi kejutan untukmu pada nantinya.

Beberapa bulan sudah berganti. Adalah aku yang terkejut atas keputusanmu. Kau sudahi begitu mudah perjalanan kita, pindah jalur dengan lelaki yang kau kenal sebulan lalu. Katamu, kau sudah tak betah lagi dengan kesulitan hidupku selama ini. Kau hanya pura-pura bertahan meski sesungguhnya muak tak tahan. Kau ingin menjajaki dunia yang lebih gemerlap, tak lagi meminati obrolan di kedai kopi sederhana. Jadi, selama ini, Ketika aku bermandikan keringat demi mengesahkanmu, kau sedang bermandikan kemesraan dengan orang lain? Benar-benar sempurna!

Setelah keputusanmu, hari-hariku kadang kurang bergairah. Aku tetap melanjutkan hidup meski kadang-kadang hampa. Sampai kini aku masih belum percaya. Raut muka yang kulihat penuh cinta ternyata cuma topeng belaka. Semua kalimat manis dari mulutmu ternyata omong kosong saja. Baik, tidak masalah, meskipun butuh waktu, aku memang akan melupakanmu. 

Pelan-pelan aku memulai untuk melupakanmu. Perlahan-lahan aku mencoba terbiasa tanpamu, meskipun kini, dalam beberapa kesempatan, aku masih sering terkena kemelut rindu. Tak apa, aku akan mencobanya, kau pasti takan lagi di pikiranku. Akan kusimpan baik-baik undangan pesta pertunangan yang kau kirim hari ini. Meski hati masih sesakit pertama, tak apa, aku akan menghadirinya. 

Aku adalah jari yang tercekik cincin pertunanganmu, sedangkan kau begitu gembira menunjukan ikatan itu dengan terlampau bangga. Aku meledak laksana kembang api, hancur menjadi jelaga di tengah semarak pesta. Lenyap, aku pergi dengan membopong duka. Tetapi, terlalu buruk bila aku pulang tanpa meninggalkan doa. Maka, dengan kalimat sulit yang tersisa, aku mendoakanmu dua hal. Pertama, kudoakan semoga kalian langgeng dan bahagia. Kedua, kudoakan semoga tak satupun orang mengamininya.

Kecewa, sudah pasti. Sesak, tentu saja. Namun tiada gunanya kuratapi ini berlama-lama. Hidup bukan hanya hari ini, semua tragedi adalah pembelajaran. Aku menyesal bukan karena penghianatanmu, yang kusesali adalah sikapku yang terlampau mempercayaimu. Apapun itu, terimakasih. Setidaknya mawar-mawar pernah kutanam dan kutabur, cincin-cincin pernah kupersiapkan dan makan malam pernah kupesan. Setidaknya aku pernah merencanakan pesta, namun kau memilih pesta lain.

Mulai pada bagian ini, tulisan akan dilanjut pakai kata ganti ‘saya’, bukan ‘aku’, sebab ‘aku’, adalah kata ganti yang tak ingin kuperlihatkan padamu lagi. 

Sepeninggalmu, hari-hari saya berjalan lebih baik. Duka yang mengerak telah berhasil terselesaikan. Sepenggal kisah pilu tentang kita tidak lagi meremas kepala hingga menjelang pagi. Perlahan saya berhasil mewujudkan satu persatu mimpi, yang, dulu, mungkin bosan kau dengar. Saya bukan bermaksud menunjukan pencapaian-pencapaian itu. Namun, bagaimanapun, kau pernah saya idamkan untuk berada di sebelah saya hari ini. Alasan kepergianmu kala itu telah membuat semangat kian terpacu, saya semakin tergerak untuk mencapai semua tekad. Jika kau saja tidak betah dengan kondisi kehidupan saya, maka tak seharusnya saya berkubang lama-lama di sana. Kini saya menyadari, ternyata kau lebih berguna jika pergi.

Kau tahu? Sebenarnya saya ingin memberitahu pembaca bahwa tulisan ini telah berakhir. Tetapi saya tidak ingin melewatkan satu lagi bagian menarik. Sebulan lalu kau mendatangi saya. Konon kekasihmu membatalkan pernikahan. Entah siapa yang dia hamili, saya tidak begitu tertarik mendengarnya. Sejurus dengan itu, saya memutar lagu Lose You To Love Me dari Selena Gomez

Sembari menangis terisak-isak dan menutupi muka, kau bertanya:

“apakah aku masih memiliki kesempatan untuk kembali padamu lagi? Kita akan memulai semuanya dari Nol. Aku benar-benar menyesal. Sekarang aku sadar bahwa kamu yang terbaik”

Jadi saya menjawab:

“sudah, dengarkan saja lagunya”


Tamat.


 

Posting Komentar

1 Komentar

  1. Tak bisa banyak berkomentar dengan kata² yang anda ciptakan, saya hanya bisa berkata Wooww ini luar biasa.👏👏👏

    BalasHapus