Phonophobia: Rasa Takut Kepada Suara

Bumba

 ●

Phonophobia didefinisikan sebagai rasa takut yang persisten, abnormal, dan tidak beralasan terhadap suara. Seringkali, ketakutan ini dipicu oleh suara lingkungan yang normal (misalnya, lalu lintas, suara dapur, pintu tertutup, atau bahkan suara-suara yang keras) yang dalam keadaan apa pun tidak dapat merusak. Fonofobia juga dapat dikaitkan dengan hiperakusis (reaksi kuat yang tidak normal terhadap suara) yang terjadi dalam jalur pendengaran, pada tingkat yang tidak akan mengganggu individu normal. Kondisi ini dapat terjadi karena faktor genetik, trauma masa lalu, atau gejala penyakit tertentu seperti migrain, hipersomnia, atau cedera traumatis pada otak.

Phonophobia berbeda dari kondisi lain yang memiliki ketidaknyamanan terhadap indera pendengaran sebagai gejala, kondisi lain tersebut di antaranya:

● Hiperakusis. Kondisi ini bukan fobia, tetapi merupakan gangguan pendengaran yang menyebabkan suara terasa lebih keras daripada yang sebenarnya. Hiperakusis memiliki sejumlah penyebab, termasuk cedera otak, penyakit Lyme (penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang ditularkan oleh gigitan kutu), dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD) .

● Misofonia. Kondisi ini bersifat emosional, tetapi bukan fobia. Orang yang mengidap misofonia memiliki reaksi emosional yang intens, seperti kebencian atau panik terhadap suara tertentu (misal, keran yang menetes atau orang yang mendengkur). Pada kondisi misofonia, suara tidak harus keras untuk menghasilkan efek ini.

Gejala-Gejala pada Phonophobia

Gejala phonophobia mungkin membuat sulit untuk menikmati aktivitas dan kehidupan sehari-hari. Seseorang dengan kondisi ini mungkin mengalami gejala-gejala berikut; kecemasan, takut, berkeringat, sesak napas, jantung berdebar atau peningkatan detak jantung, sakit dada, pusing, mual, pingsan.

Lalu timbul pertanyaan, apakah ketakutan akan suara keras berhubungan dengan autisme? Orang dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder) terkadang takut akan suara keras. Reaksi ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari, termasuk kecemasan yang meningkat, sensitivitas sensorik, atau keduanya. Anak-anak dan orang dewasa yang mengidap ASD mungkin mengalami ketakutan dalam mengantisipasi suara keras yang mereka kaitkan dengan peristiwa yang tidak menyenangkan. Mereka yang memiliki masalah sensorik mungkin memiliki hipersensitivitas terhadap suara, yang menyebabkan mereka mendengar sesuatu lebih keras daripada yang sebenarnya.

Kemudian, apa yang menyebabkan ketakutan akan suara keras? Phonophobia merupakan kondisi kesehatan mental yang dapat bermanifestasi pada usia berapa pun. Seperti semua fobia spesifik, penyebab pastinya tidak sepenuhnya dipahami. Hal ini mungkin saja disebabkan oleh faktor genetik. Orang dengan riwayat keluarga yang termasuk gangguan kecemasan mungkin lebih rentan terhadap kondisi ini. Phonophobia juga dapat disebabkan oleh faktor eksternal, seperti riwayat trauma masa kanak-kanak jangka panjang, atau, insiden traumatis tunggal. Pada anak autis dan beberapa anak lain, peristiwa traumatis mungkin tampak ekstrem, tetapi sebenarnya tidak demikian. Misalnya, tiba-tiba mendengar semua orang dengan keras meneriakkan kejutan di pesta ulang tahun.

Dalam beberapa kasus, phonophobia juga dapat menjadi gejala dari kondisi lain, termasuk; sakit kepala migrain, sindrom Kleine-Levin (sleeping beauty syndrome), cedera otak traumatis.

Ketakutan akan suara keras dapat diatasi melalui:

● Terapi paparan (desensitisasi sistematis). Ini adalah jenis psikoterapi (terapi bicara). Terapi ini menggunakan paparan terpandu dan berulang kepada sumber ketakutan. Terapi pemaparan dapat dilakukan secara individu, atau kelompok. Terapi ini bisa sangat efektif untuk pengobatan semua jenis fobia spesifik.

● Terapi perilaku kognitif. Terapi ini menggunakan beberapa elemen terapi pemaparan, dikombinasikan dengan teknik yang membantu kita mengubah pikiran dan perilaku negatif.
● Teknik relaksasi. Kegiatan seperti meditasi juga dapat membantu, terutama bila dikombinasikan dengan perawatan lain.
 

Posting Komentar

0 Komentar