Di simpang Jalan Affandi

 Penulis: Suden

/1/ Persimpangan

Di ujung harapan, aku memasung tubuhku di tepi jalan. Menyantap sedap kemajemukan kota yang pulang dari peraduannya.

Sementara Affandi tampak begitu suram. Segumpal mesin roda berambisi menguasai laju kiri, orang-orang kota beradu menyiasati jalanan, sedang seruan magrib hanya ornamen yang kian diabaikan. 

Aduh gusti! Kepalaku adalah kilang pabrik paling riuh. Menyaku ambisi nan jauh dari harapan. Para wanita itu menawarkan tubuhnya untuk dinikmati, namun aku memilih menggantung harap pada selangkangan. 

Di tepi jalan itu aku membagi kepulan tembakau bersama pedagang koran. Kita menghisap tabun mani di ujung batangnya. Menyaksikan jalanan ini memakan separuh ketukan waktu di toko arloji. Pedagang itu memberiku wejangan:

“Besok kita akan menyaksikan aliansi mahasiswa bergemuruh memenuhi sudut Affandi”
Dan pada pantikan api perdana, sebilah bibirnya menyodorkanku sebuah cerita. Dulu, ia pernah menyaksikan mahasiswa menuntut reformasi di jalanan ini. lidahnya serupa belati yang sedap bermain rima. Kerutanya adalah gelora emosi yang tumpah di simpang ini.

Dari bibir itu dapat kusaksikan. Betapa hebatnya sebongkah jiwa para pemangku masa depan bangsa, membagi darah di sepanjang jalan ini. Sedang para pemerhati sibuk dengan perkara mereka masing-masing.

/2/ Restu Gusti


Kini kota tumbuh dari ketidakpeduliannya. Sedang aku khawatir, harga tembakau melambung tinggi. Orang-orang kota menggantung sesuap nasi demi selinting tembakau. Kemudian pedagang itu bersumpah akan membakar koranya sendiri, ia menuntut lumatan terakhir dari mulutnya itu.


Walah Gusti, ketika malam tiba. Aku menggantung harap pada jalanan ini. Mengharap kemajemukan  menemui ujungnya.

Ketahuilah Gusti, Affandi adalah saksi bagi gambaran kota yang majemuk.

Ketika pagi tiba, umurku habis di persimpangan. Menanggalkan tubuhku di liang lahat.


2018, Yogyakarta



Posting Komentar

0 Komentar